
Perjalanan Batin dalam Drama "Dear X"
"Dear X" bukan hanya tentang kejahatan, tetapi juga tentang anak yang tidak pernah diajari cara dicintai—lalu tumbuh dengan strategi bertahan yang salah. Drama ini sering dipromosikan sebagai dark romance dengan plot twist yang mengejutkan. Namun, bagi saya pribadi, daya guncangnya tidak terletak pada ceritanya, melainkan pada perjalanan batin tokoh-tokohnya yang perlahan membuka lapisan luka, manipulasi, dan keputusasaan.
Sebagai tontonan, "Dear X" bisa dinikmati sebagai thriller psikologis tentang dunia hiburan yang kejam. Namun, sebagai pengalaman batin, drama ini terasa seperti cermin yang memantulkan satu pertanyaan sunyi: bagaimana jika luka masa kecil tidak pernah benar-benar sembuh, lalu tumbuh menjadi cara bertahan yang merusak?
Di awal, saya tidak merasa sedang dimanipulasi saat Ah-jin berkali-kali berkata, "Kenapa harus selalu aku yang menderita?" Kalimat itu terdengar seperti jeritan seseorang yang memang terlalu sering terluka. Namun menjelang episode akhir, entah karena terlalu sering diulang atau karena konteks yang makin terbuka, muncul rasa tidak nyaman: Ah-jin tampak "bahagia" dengan penderitaannya sendiri.
Luka masa lalu bukan lagi sekadar pengalaman, melainkan alat—sesuatu yang bisa dipakai untuk mengikat, menekan, dan memanipulasi orang-orang di sekitarnya. Di titik inilah akting Kim You-jung sebagai Baek Ah-jin terasa sangat ciamik. Ia tidak meminta simpati penonton secara terang-terangan. Justru lewat detail-detail kecil, kita diajak masuk ke ruang batin Ah-jin yang retak, tetapi terawat rapi. Bukan lewat dialog panjang, melainkan dari ekspresi matanya—kosong, rapuh, sekaligus penuh perhitungan. Tatapan itu membuat Ah-jin terasa hidup: bukan sekadar antagonis, melainkan anak yang tak pernah selesai dengan rasa sakitnya.
Konflik Batin Kim Jae-oh
Yang sampai sekarang masih sulit saya pahami adalah Kim Jae-oh. Saya tahu ia dibesarkan tanpa kasih sayang orang tua. Saya paham luka kehilangan membuat seseorang mudah mengalami kemelekatan. Banyak yang menyebut cintanya tulus. Namun, benarkah ketulusan harus berujung pada kebutaan, sampai rela mati demi membantu Ah-jin?
Memang hanya Ah-jin yang menggenggam tangannya saat ia merasa tak berguna dan tersesat. Perasaan tidak dihargai sebagai manusia bisa membuat seseorang melakukan apa saja demi satu orang yang memberinya makna. Dari sisi alur, ini kuat dan konsisten. Lingkungan keluarga memang memegang peran penting dalam pembentukan psikologis anak hingga dewasa.
Sebagai penonton, mungkin saya tidak bisa sepenuhnya memahami alur pikiran Jae-oh sampai memilih mati. Namun, jika ditarik lebih jauh, ketulusan Jae-oh tidak sepenuhnya lahir dari cinta romantis, melainkan dari momen ketika untuk pertama kalinya ia merasa benar-benar berarti bagi seseorang. Dalam relasi dengan Ah-jin—yang sama-sama tumbuh dari luka kekerasan dan pengabaian—Jae-oh menemukan arah, identitas, dan peran. Ia tidak hanya merasa dicintai, tetapi juga dibutuhkan.
Bagi seseorang yang seumur hidup tak pernah diakui sebagai manusia utuh, perasaan dibutuhkan bisa terasa lebih penting daripada keselamatan dirinya sendiri. Di sini "Dear X" seperti sengaja membiarkan penontonnya merasa tidak nyaman. Tidak semua pilihan ekstrem diberi penjelasan yang memuaskan, sebagaimana dalam hidup, tidak semua pengorbanan bisa diterjemahkan secara rasional.
Di titik itu, saya bertanya: apakah ini cinta atau sekadar keputusasaan yang diberi nama cinta? Atau sebenarnya Kim Jae-oh ingin—paling tidak—hidupnya begitu berarti bagi satu-satunya orang yang menghargai dia. Sesuatu yang tidak pernah dia dapatkan dari orang tuanya.
Yoon Joon-seo: Belajar Bertahan dengan Jarak
Jika Jae-oh menunjukkan bagaimana luka bisa membuat seseorang melebur sampai lenyap, Joon-seo memperlihatkan kemungkinan lain: bertahan tanpa kehilangan diri. Berbeda dengan Ah-jin dan Jae-oh yang bergerak dari luka menuju keterikatan yang saling melukai, Joon-seo berdiri di wilayah abu-abu antara empati dan batas diri.
Joon-seo bukan anak yang tumbuh tanpa luka. Ia juga punya inner child yang terluka—tetapi strategi bertahannya berbeda. Kalau Ah-jin bertahan dengan manipulasi, Jae-oh bertahan dengan penyerahan diri total, Joon-seo bertahan dengan jarak dan kontrol diri. Ia memilih: mencintai tanpa melebur, peduli tanpa kehilangan nalar, hadir tanpa mengorbankan hidupnya sendiri.
Ini bukan karena lukanya lebih ringan. Semua konflik keluarga, terutama dengan ibunya, membuatnya belajar bahwa mencintai tidak harus menghapus diri sendiri. Trauma bonding vs attachment yang lebih sehat. Bagian ini terasa penting karena "Dear X" tidak sekadar menyuguhkan tragedi, tetapi juga spektrum relasi emosional yang sering kita salah artikan dalam kehidupan nyata.
Jun-seo tidak sepenuhnya bebas dari jerat emosional. Ia sempat masuk ke trauma bonding dengan Ah-jin. Ada ketertarikan, ada rasa ingin menyelamatkan, ada empati terhadap lukanya. Ia tinggal terlalu lama, bukan semata karena cinta, tetapi karena rasa bersalah. Ada keyakinan sunyi dalam dirinya bahwa kegagalannya melindungi Ah-jin di masa kecil harus ditebus dengan kepatuhan dan kehadiran tanpa syarat.
Bahkan ketika sadar sedang dimanipulasi, Jun-seo tidak serta-merta pergi. Ia memilih bertahan, seolah rasa bersalah bisa menjadi alasan moral untuk terus menunda hidupnya sendiri. Namun, perlahan ia menyadari satu hal pahit: rasa bersalah yang terus dipelihara tidak menyembuhkan siapa pun. Ia hanya memperpanjang luka, termasuk lukanya sendiri.
Cinta Bukanlah Pengorbanan
Sebagai penonton, kita telah lama dicekoki narasi bahwa cinta harus dramatis, menyakitkan, dan penuh pengorbanan agar terasa sah. Kita sering salah mengira: pengorbanan membuktikan cinta terdalam, sedangkan rasa sakit adalah bukti ketulusan. Padahal Joon-seo menunjukkan cinta versi dewasa: cinta yang tidak memberi panggung pada luka, dan tidak menjadikan trauma sebagai mata uang emosional.
Ia hanya memberi waktu dan berharap suatu saat Ah-jin akan berubah. Ia bukan penyelamat. Ia juga bukan korban. Ia adalah seseorang yang memilih tidak mengulang pola luka yang sama. Namun, menjaga batas terlalu lama juga menyisakan kelelahan emosional.
Joon-seo Bukan Tenggelam karena Cinta, Ia Putus Asa
Bagian akhir ini terasa seperti pukulan pelan, tetapi telak. Tidak ada kemenangan emosional, tidak ada romantisasi pengorbanan. Yang tersisa hanyalah keputusan etis yang berat. Jika kita tarik ke adegan terakhir dan percakapan mereka, pilihan Joon-seo bukan lahir dari bucin, melainkan dari keputusasaan eksistensial.
Joon-seo merasa terlambat menyadari hingga sampai pada satu kesimpulan pahit: Ah-jin tidak lagi bisa diselamatkan. Bukan semata karena ia jahat. Namun, karena ia justru menikmati dan memanfaatkan luka-lukanya sebagai alat. Sampai di titik itu, Joon-seo tidak memilih: menyelamatkan Ah-jin atau dirinya sendiri. Ia memilih: menghentikan siklus luka agar tidak terus menyakiti orang lain.
Dalam pikirannya, mungkin Joon-seo berkata, "Jika aku membiarkanmu hidup seperti ini, akan ada lebih banyak korban. Aku tidak akan sanggup menyaksikannya." Ini keputusan yang dingin, tragis, dan sangat manusiawi—bukan romantis. Mungkin di situlah "Dear X" meninggalkan bekas paling dalam. Ia tidak menawarkan pelipur lara, tetapi mengajak kita bercermin: sejauh mana kita memaklumi luka dan di titik mana empati harus berhenti agar tidak berubah menjadi pembenaran.
