Bareskrim Polri ungkap jaringan penyelundupan timah dari Bangka Selatan ke Malaysia

Erfapulsa
By -
0
Bareskrim Polri ungkap jaringan penyelundupan timah dari Bangka Selatan ke Malaysia

Penyelundukan Pasir Timah ke Malaysia Terungkap di Bangka Selatan

Penyidik Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Dittipidter) Bareskrim Polri berhasil mengungkap jaringan penyelundupan pasir timah ilegal di Pantai Kubu, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Penggeledahan yang dilakukan pada Kamis (19/2/2026) mengungkap aktivitas jual beli timah ilegal ke Malaysia.

Selama penggeledahan di sebuah rumah milik pengusaha timah di Jalan Mawar, Desa Gadung, Kecamatan Toboali, penyidik menemukan bukti-bukti terkait jaringan penyelundupan. Hasil penggeledahan menunjukkan bahwa bijih timah tersebut diangkut melalui perairan Pantai Kubu dan telah berhasil diselundupkan ke Negeri Jiran sebanyak 18 kali.

Penggeledahan dilakukan bersama Subdit Tipidter Ditreskrimsus Polda Kepulauan Bangka Belitung. Direktur Dittipidter Bareskrim Polri, Brigjen Pol Irhamni, menjelaskan bahwa fokus penggeledahan adalah pencarian alat komunikasi dan petunjuk lain untuk menelusuri jaringan penambangan hingga penyelundupan pasir timah ilegal lintas negara.

Menurutnya, penggeledahan ini merupakan pengembangan dari kasus penyelundupan 7,5 ton pasir timah ke Malaysia pada Oktober 2025. Saat itu, 11 anak buah kapal (ABK) ditangkap Agensi Penguatkuasa Maritim Malaysia di perairan Pulau Pemanggil, Johor, karena membawa pasir timah ilegal menggunakan perahu tanpa registrasi. Kesebelas pelaku kemudian dipulangkan ke Indonesia melalui Batam pada Januari 2026. Dua di antaranya diketahui berasal dari Toboali, Basel.

Meski demikian, Irhamni menegaskan bahwa rumah yang digeledah belum tentu terkait langsung dengan pelaku utama. “Tetapi belum tentu (rumah) yang kita geledah ini adalah pelaku utamanya. Untuk pelaku utama sudah kita amankan sebanyak 11 orang,” ujarnya.

Penyidik masih memburu pihak lain yang diduga terlibat dalam jaringan. Aparat meyakini penyelundupan dilakukan secara terorganisasi, melibatkan banyak peran mulai dari penambang, pengumpul, hingga pengatur distribusi. “Masih ada pelaku lain yang sedang kita kejar,” tegasnya.

Selama penggeledahan, aktivitas aparat terlihat padat. Enam kendaraan penyidik terparkir di sekitar rumah. Petugas keluar-masuk bangunan dengan sarung tangan, membawa peralatan, termasuk laptop. Di bagian belakang rumah, polisi juga memeriksa kendaraan pikap.

Rumah tersebut diketahui milik seorang pengusaha timah bernama Aho. Sementara itu, pada hari yang sama, penyidik juga menyita satu unit kapal dan mesin tempel di kawasan labuh perahu nelayan di Pantai Kubu, Toboali. Kapal itu diduga digunakan untuk mengangkut pasir timah dari darat ke tengah laut sebelum dipindahkan ke kapal lebih besar menuju luar negeri.

“Untuk kapal ini merupakan barang bukti baru dari pengembangan,” kata Irhamni. Ia menjelaskan kapal tersebut berfungsi sebagai alat angkut tahap awal dalam rantai distribusi ilegal. Selain kapal, penyidik juga menyita alat komunikasi serta pasir timah seberat 50 kilogram yang sebelumnya diamankan otoritas Malaysia.

Berdasarkan regulasi, lokasi yang diduga menjadi sumber timah ilegal berada di wilayah izin usaha pertambangan milik PT Timah. “Sebenarnya kawasan ini merupakan wilayah IUP PT Timah. Kalau masyarakat ingin bekerja, seharusnya bekerja sama dengan PT Timah, kemudian hasilnya disetorkan dan dijual ke PT Timah,” ujarnya.

Untuk mempersempit ruang gerak pelaku, aparat juga meningkatkan patroli di wilayah pesisir dan perairan Bangka Selatan melalui kerja sama dengan Polair dan Polda setempat. Saat ini, seluruh tersangka telah diamankan di Bareskrim Polri. Mereka terancam hukuman penjara di atas lima tahun.

Warga Curiga atas Aktivitas Penyelundupan

Warga di kawasan labuh perahu nelayan di Pantai Kubu, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, sudah menyimpan curiga atas aktivitas pria yang mengoperasikan satu kapal di kawasan tersebut. Belakangan, perahu yang dioperasikan pria yang dikenal dengan panggilan Wan Speed itu disita penyidik Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Dittipidter) Bareskrim Polri.

Babak, pemilik pondok kecil di Pantai Kubu, mengaku sering melihat Wan Speed beraktivitas di kawasan itu menggunakan sebuah perahu. Menurutnya, sosok tersebut bukan orang asing bagi warga setempat meski identitas lengkapnya tidak diketahui. “Memang pelaku sudah pulang dari laut sering memberi uang. Saya tidak tahu namanya, tapi biasanya kami panggil Wan Speed,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Wan Speed kerap melaut menggunakan perahu itu. Namun, warga tidak pernah mengetahui secara pasti kegiatan yang dilakukan di tengah laut. Meski begitu, kecurigaan telah lama muncul di kalangan nelayan. Sejumlah nelayan menduga aktivitas pria tersebut berbeda dengan nelayan pada umumnya.

Kecurigaan itu muncul karena perahu yang digunakan dinilai tidak lazim dan lebih menyerupai perahu pengangkut timah. “Nelayan di sini memang sudah curiga. Tapi kami tidak pernah melihat apa-apa. Yang mencurigakan cuma perahunya,” katanya.

Babak menambahkan, kehadiran Wan Speed tidak rutin. Dalam sepekan, pria itu biasanya hanya datang sekali. Namun, dalam dua pekan terakhir, ia tidak lagi terlihat di kawasan pesisir. Warga juga tidak mengetahui alasan ketidakhadirannya.

Meski demikian, Babak menegaskan masyarakat pesisir siap melapor apabila menemukan aktivitas ilegal. Warga, kata dia, telah sepakat untuk menyampaikan informasi kepada aparat jika melihat kegiatan mencurigakan. “Kalau ada pelaku menurunkan timah dari sini, pasti kita tangkap dan kita lapor. Karena dari Toboali juga banyak yang minta informasi kalau ada yang mencurigakan di pesisir,” tegasnya.

Ia menuturkan, masyarakat pesisir saling mengenal sehingga kehadiran orang asing mudah terdeteksi. Berdasarkan pengamatannya, Wan Speed biasanya berangkat melaut sekitar pukul 16.00 WIB dan kembali sekitar pukul 21.00 hingga 22.00 WIB. Babak juga menyebut pria tersebut kerap menitipkan mesin tempel perahunya di pondok.

Hal lain yang menimbulkan kecurigaan adalah lamanya waktu melaut tanpa membawa hasil tangkapan. “Biasanya kalau berangkat sering bawa ikan, untuk makan. Tapi kalau pulang tidak membawa ikan,” ujarnya.


Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default