
Cahaya matahari pada pagi Sabtu, tanggal 28, baru saja masuk melalui celah-celah tirai kamar ketika saya mengambil ponsel. Dalam keadaan setengah terjaga, rutinitas pagi yang biasanya tenang tiba-tiba terganggu oleh deretan notifikasi berita yang membuat layar bergetar: Iran sedang diserang oleh pasukan udara gabungan Israel dan Amerika Serikat.
Dunia yang selama ini saya pelajari melalui data pertumbuhan PDB dan grafik permintaan-penawaran tiba-tiba terasa sangat nyata dan mengkhawatirkan. Sebagai seorang ilmuwan, saya memahami bahwa gejolak di pusat energi dunia ini bukan hanya berita luar negeri, tetapi guncangan yang akan menyebar hingga ke dapur-dapur rumah tangga di pelosok Indonesia.
Tensi ini mencapai puncaknya pada hari Minggu, tanggal 1. Berita duka datang kemudian, dengan kematian Pemimpin Tertinggi Iran akibat serangan tersebut. Dari sudut pandang politik ekonomi internasional, peristiwa ini bukan hanya pergantian kepemimpinan, tetapi mungkin perubahan besar dalam kekuasaan regional.
Bencana Sumber Daya dan Dampak Kipas Angin
Sambil membuka laptop, pikiran saya langsung terbang ke lantai bursa. Di dunia yang saling terhubung ini, ketidakpastian merupakan racun. Harga emas, yang sering dianggap sebagai tempat berlindung aman(safe haven) di tengah situasi geopolitik yang memburuk, kemungkinan besar harga akan meningkat melebihi angka $4.500 per ons. Investor global yang khawatir akan terjadinya konflik besar akan meninggalkan aset berisiko dan beralih ke logam mulia serta mata uang dolar AS, yang pada akhirnya akan memberikan tekanan besar terhadap nilai tukar Rupiah kita.

Masalah utamanya berada di Selat Hormuz. Jika Iran, dalam kekecewaan dan kesedihan mereka, memutuskan untuk menutup jalur ini, dunia akan menghadapi krisis logistik. Kapal-kapal pengangkut barang yang menuju Indonesia harus melewati Tanjung Harapan, sebuah jalur yang jauh lebih panjang dan mahal.
Saya menganggap ini sebagai ancaman "inflasi impor" (imported inflation) Biaya pengiriman yang meningkat tajam akan menyebabkan kenaikan harga bahan baku industri, suku cadang, hingga barang kebutuhan pokok di pasar dalam negeri kita. Kita sedang menghadapi kondisi yang disebut oleh para pakar sebagai "stagnasi pertumbuhan global yang diiringi inflasi".
Diplomasi Transaksional
Di seberang lautan, kebijakan luar negeri Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump sedang melakukan eksperimen ekonomi yang paling radikal dalam seratus tahun terakhir. Trump, dengan gaya seperti "Sopranos", lebih fokus pada transaksi daripada menjalin aliansi jangka panjang. Serangan terhadap Iran ini mungkin merupakan bagian dari "perdamaian melalui kekuatan" yang ia banggakan, namun bagi negara berkembang seperti Indonesia, gaya kepemimpinan yang tidak dapat diprediksi ini menjadi sumber risiko utama. (geopolitical risk).
Kebijakan Presiden Trump yang memberlakukan tarif tinggi (antara 10,5% hingga 28%) bertujuan untuk menjaga industri lokal, tetapi justru mengurangi kekuatan sistem perdagangan global. Ketika Amerika mundur dari perannya sebagai "pembela dunia" dan berubah menjadi negara yang lebih fokus pada transaksi, Indonesia terpaksa bersikap lebih realistis dalam hubungan diplomatiknya.
Kita melihat bagaimana negara-negara seperti Brasil dan India mulai mendekat kepada Tiongkok setelah menerima sanksi atau tarif dari Amerika Serikat. Fenomena "drift geopolitik" ini menempatkan Indonesia dalam posisi penting: bagaimana mempertahankan hubungan dengan AS sebagai mitra keamanan sambil memperkuat ketergantungan ekonomi terhadap Tiongkok yang terlihat lebih "mudah diprediksi" saat ini.
Dampak terhadap Struktur Ekonomi Nasional Indonesia
Bagaimana hal ini mempengaruhi politik dalam negeri Indonesia? Sebagai seorang akademisi, saya melihat tiga saluran utama:
1. Tekanan Fiskal dan Bantuan Pemerintah
Jika harga minyak global meningkat akibat konflik ini, APBN kita akan mengalami tekanan yang sangat berat. Meskipun sumber menyatakan bahwa dunia mungkin "kaya akan minyak" jika tidak ada pembatasan penuh, ketegangan di kawasan Timur Tengah selalu menimbulkan premi risiko pada harga energi. Pemerintah Indonesia akan menghadapi dilema politik yang sulit: menaikkan harga bahan bakar minyak yang tidak disukai oleh rakyat, atau memperbesar defisit anggaran yang bisa memicu ketidakpercayaan pasar obligasi.
2. Ketersediaan Pangan dan Bantuan dari Luar Negeri
Kebijakan Amerika Serikat yang mengurangi bantuan luar negeri serta membatasi arus migrasi berpotensi memperparah krisis kemiskinan dan kelaparan di tingkat global. Meskipun Indonesia memiliki perekonomian yang cukup besar, negara ini tetap rentan terhadap fluktuasi harga pangan global yang dipengaruhi oleh biaya logistik dan pupuk. Isu keterjangkauan harga pangan sangat sensitif dalam politik dalam negeri, karena ketidakstabilan harga sering kali menjadi penyebab kerusuhan sosial dan perubahan politik.
Melihat Ke depan Pada Tahun 2026
Pada tahun 2026, yang seharusnya menjadi momen perayaan ke-250 kemerdekaan Amerika Serikat, justru terlihat sebagai tahun ketika sistem lama benar-benar hancur. Kita mengamati "pembagian" di berbagai bidang, baik dalam perdagangan, standar teknologi, maupun dalam ideologi.
Indonesia perlu mampu bergerak di antara kelompok-kelompok kekuasaan ini. Tiongkok mungkin menawarkan kerja sama ekonomi melaluitrade dealsdan infrastruktur yang lebih stabil dibandingkan AS yangmercurialnamun ketergantungan yang berlebihan juga menimbulkan ancaman terhadap kedaulatan.
Di tengah keheningan pagi hari Minggu, saya merenung. Peristiwa di Teheran bukan hanya babak baru dalam sejarah, tetapi variabel-variabel yang sedang mengubah persamaan kesejahteraan rakyat Indonesia. Politik internasional bukan lagi sesuatu yang "di luar sana"; ia hadir dalam setiap fluktuasi Rupiah, dalam setiap harga barang di pasar, dan dalam setiap kebijakan strategis yang dibuat di Jakarta. ini yang saya sebut "Ketangguhan Global dan Getaran Ekonomi di Negeri Sendiri
Sebagai seorang akademisi, pendapat saya adalah bahwa Indonesia perlu memperkuat kemandirian ekonomi dalam negeri tanpa mengisolasi diri. Kita harus memanfaatkan peluang pertumbuhan di sektor ritel yang masih positif (diperkirakan mencapai 7% di Filipina dan angka yang kuat di India, yang relevan dengan kondisi ekonomi negara berkembang seperti Indonesia) serta memperkuat sistem pembayaran digital lintas batas seperti Project Nexus guna mengurangi ketergantungan pada sistem keuangan Barat yang semakin tidak stabil.
Perang yang terjadi di kawasan Timur Tengah serta kematian tokoh utama menjadi pengingat bahwa dunia ini seperti "lapisan kaca yang sangat tipis" yang mudah pecah. Di tangan para pemimpin dan ekonom Indonesia juga berada tanggung jawab untuk menjaga agar retakan global tersebut tidak merusak struktur sosial dan ekonomi negara kita.
