Laporan Utama: Bisnis Ban Mobil Mengalami Penurunan

Erfapulsa
By -
0
Laporan Utama: Kenaikan dan Penurunan Bisnis Ban Kendaraan

Laporan Utama: Berkembangnya Usaha Ban Mobil

Perjalanan bisnis otomotif Indonesia sepanjang tahun 2025 menyimpan kisah menarik, salah satunya yang dirasakan oleh produsen ban, berikut kisahnya.

Erfa Pulsa -/ News

Naufal Nur Aziz Effendi 7 Maret, pukul 14.00 7 Maret, pukul 14.00

Erfa Pulsa -- Perjalanan bisnis otomotif di Indonesia sepanjang tahun 2025 menyimpan kisah yang menarik. Tekanan berat terhadap pasar mobil baru tidak menghancurkan semua merek.

Karena itu, pendapatan bisnis sepatu karet justru meningkat. Setidaknya demikian laporan dari Bridgestone.

Maksudnya, terdapat celah-celah peluang untung yang masih bisa dimanfaatkan selain dari menyediakan komponen untuk pabrikan mobil.

Hanya saja ini laporan dari Bridgestone. Secara umum, penjualan ban menghadapi tekanan. Akibatnya, volume penjualan sedikit menurun.

Bisnis ban mobil di dalam negeri mengalami fluktuasi. Ada yang berkembang dan ada yang menurun.

Tidak heran, di tengah persaingan ketat antar merek ban mobil, masih ada brand lain yaitu Sailun yang antusias untuk terjun ke sektor ini.

Perhitungan jelas, besaran investasi telah ditentukan, target sudah ditetapkan, selanjutnya menjalankan proses pabrik dan penjualan.

Ini pasti berita baik karena Indonesia masih dianggap memiliki potensi yang besar.

Bukan hanya itu, pemilik merek dapat mengintegrasikan rantai pasok dalam negeri. Bahan baku, produksi hingga pendistribusian semuanya berlangsung di dalam negeri.

Maknanya, dasar bisnis yang dijalankan kuat dan berfokus pada strategi jangka panjang.

Penggunaan teknologi, peningkatan daya saing atau kemampuan dalam menghasilkan produk dan layanan yang lebih baik, memberikan manfaat khusus bagi para pengguna.

Karena ketika situasi seperti ini, investor tidak hanya memperdagangkan produk tetapi juga menciptakan kepercayaan. (Iday) Stabilitas Ekonomi Tantangan Industri Ban

Sektor ban dalam negeri masih menghadapi berbagai kendala di tengah perubahan kondisi ekonomi yang terus berkembang.

Meski demikian, PT Bridgestone Tire Indonesia tetap percaya diri bahwa pasar ban di Nusantara akan berkembang secara positif, seiring dengan strategi penyesuaian produk dan layanan yang semakin sesuai dengan kebutuhan pelanggan.

Kepala Eksekutif Bridgestone Indonesia, Mukiat Sutikno, menyatakan bahwa tantangan terbesar dalam industri ban saat ini muncul dari situasi ekonomi yang masih belum sepenuhnya stabil.

Namun, ia menekankan bahwa fokus perusahaan bukan hanya terbatas pada tekanan dari luar, tetapi bagaimana merespons kebutuhan pasar dengan tepat.

"Tantangan terbesar adalah perubahan dalam sektor ekonomi, tetapi fokus kami adalah bagaimana menyediakan produk dan layanan toko ritel yang sesuai dengan keinginan pelanggan," kata Mukiat kepada OTOMOTIF, Jumat (23/1/2026).

Di tengah tantangan yang dihadapi, sektor ban nasional masih menunjukkan prospek pertumbuhan yang baik. Mukiat mengatakan, selama tahun 2025 sektor ini diperkirakan tumbuh antara 4 hingga 5 persen per tahun.

Pertumbuhan ini didorong oleh pasar ban mobil penumpang dan kendaraan komersial, baik untuk kebutuhan pabrikan peralatan asli (OEM) maupun penggantian.

"Ban mobil penumpang dan komersial tetap menjadi prioritas bagi Bridgestone Indonesia, baik untuk pasar pengganti maupun OEM," katanya.

Selain pasar dalam negeri, Bridgestone Indonesia masih mempercayai ekspor sebagai penggerak kinerja perusahaan.

Saat ini, ban Bridgestone asal Indonesia telah dikirimkan ke lebih dari 70 negara, yang berkontribusi pada pemeliharaan keseimbangan bisnis di tengah perubahan pasar lokal.

Mukiat juga menganggap masuknya merek-merek ban baru ke Indonesia bukan hanya ancaman bagi perusahaan lama.

Menurutnya, persaingan justru mampu memberikan dampak yang baik bagi seluruh sektor industri.

"Kami percaya bahwa kehadiran merek ban baru akan memberikan dampak positif dengan menciptakan lebih banyak kesempatan kerja serta menawarkan kepada konsumen pilihan ban yang lebih beragam di pasar," tambahnya. (Wisnu)

Strategi Sailun di Tengah Persaingan Ban

Grup Sailun baru-baru ini mengumumkan pembukaan pabrik mereka di Indonesia, yang terletak di Demak, Jawa Tengah, pada hari Minggu (18/1/2026).

Kehadiran produsen ban baru Sailun Group di Indonesia menyebabkan persaingan pasar semakin sengit.

Untuk bertahan di pasar dalam negeri, PT Sailun Tire Indonesia mengungkapkan strategi yang telah disiapkan guna bersaing dengan pemain lain di pasar ban nasional.

Kepala Divisi Penjualan dan Pemasaran PT Sailun Tire Indonesia, Eko Supriyatin, mengungkapkan bahwa langkah awal perusahaan dimulai dengan memperkuat kualitas produk.

Menurutnya, kualitas merupakan hal penting dalam menciptakan kepercayaan pelanggan terhadap sebuah merek yang masih relatif baru.

"Mulai dari produknya. Produk kami memiliki kualitas yang baik. Selanjutnya, teknologi kami akan terus diperbarui sesuai dengan perubahan kebutuhan pasar, serta mencakup semua segmen pasar," kata Eko di Semarang, Sabtu (17/1/2026).

Selain produk, Sailun juga memberikan perhatian besar terhadap pengembangan jaringan distribusi. Jaringan yang luas dianggap penting agar produk dapat dengan mudah diakses oleh konsumen serta mempercepat penyesuaian terhadap perubahan pasar.

"Yang kedua adalah jaringan. Jaringan kami memiliki kemitraan yang cukup luas," tambahnya. Saat ini, Sailun telah bekerja sama dengan sekitar 30 distributor di berbagai daerah di Indonesia.

Melalui jaringan tersebut, perusahaan berusaha mempertahankan hubungan dekat dengan pelanggan, sekaligus memastikan distribusi produk berjalan cepat dan stabil.

"Yang jelas, setidaknya distributor kami tetap berada dekat dengan pelanggan, dengan pasokan yang cepat, serta mampu mendengarkan selera pelanggan secara cepat. Tujuan perbaikan juga dilakukan dengan cepat," ujar Eko.

Mengandalkan kualitas produk, perkembangan teknologi, dan jaringan distribusi yang terus berkembang, Sailun yakin mampu bersaing dalam pasar ban Indonesia yang saat ini sangat kompetitif dengan berbagai merek lokal maupun global. (Naufal)

Optimis Melalui Segmen Replacement

Pasar dalam negeri ban nasional tahun lalu mengalami tekanan karena penurunan penjualan mobil baru di dalam negeri.

Diketahui bahwa produksi mobil pada tahun 2025 mencapai 803.000 unit, mengalami penurunan sebesar 7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Aziz Pane, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Ban Indonesia (APBI), menyampaikan bahwa tantangan yang dihadapi industri ban dalam negeri tidak hanya berasal dari segi produksi.

"Tetapi juga disebabkan oleh penurunan permintaan dan tantangan global," katanya dilansir dari kontan.com

Namun demikian, pada tahun 2026 ini, kesempatan pertumbuhan masih tersedia. Mengenai pangsa OEM memang belum diketahui, karena hingga saat ini GAIKINDO (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia) belum menentukan besaran target penjualan pada tahun 2026.

"Belum ditetapkan, nanti setelah bertemu dengan produsen mobil," kata Jongkie Sugiarto, Ketua 1 GAIKINDO.

Namun, pasar secara keseluruhan tetap menunjukkan prospek yang positif, khususnya dari segmen penggantian yang cenderung lebih stabil menghadapi tekanan daya beli.

Kebutuhan pokok perawatan kendaraan dianggap tetap menjadi pilar utama industri ban.

Beberapa faktor diharapkan akan mendorong kinerja perusahaan, mulai dari portofolio produk yang beragam, peningkatan efisiensi produksi, hingga penguatan jaringan distribusi. (Hend)

Artikel ini telah terbit di Tabloid OTOMOTIF Edisi 38-XXXV 29 Januari 2026

Copyright Erfa Pulsa -2026

Related Article

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default