
Kaltim Tidak Baik-baik Saja Soal Gempa, Sesar Aktif Berpotensi Picu Gempa Besar
Kalimantan selama ini dianggap aman dari gempa. Namun fakta menunjukkan bahwa Kalimantan tidak sepenuhnya aman dari ancaman gempa bumi. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Stasiun Geofisika Balikpapan, Rasmid.
Rasmid menjelaskan bahwa aktivitas kegempaan di Kalimantan Timur mengalami peningkatan signifikan dalam dua hingga tiga tahun terakhir. Sepanjang 2025, lebih dari 200 kejadian gempa bumi tercatat di wilayah Kalimantan, dengan 148 di antaranya terjadi di Kaltim. Dari sejak awal pencatatan pada 1915, jumlah gempa yang terjadi di Pulau Kalimantan telah mencapai sekitar 850 hingga 900 kejadian.
Peningkatan aktivitas ini menjadi sinyal penting karena gempa-gempa kecil sering menjadi pendahulu sebelum terjadinya gempa dengan magnitudo lebih besar. “Biasanya sebelum gempa besar muncul, akan ada gempa-gempa kecil lebih dulu. Ini yang perlu kita antisipasi,” ujar Rasmid.
Sesar aktif menjadi sumber gempa. Di wilayah utara, terdapat Sesar Tarakan dengan panjang sekitar 100 kilometer, yang berada di Tarakan sampai Pulau Bunyu dengan potensi gempa hingga magnitudo 7,0. Di bawahnya, Sesar Mangkalihat di Semenanjung Mangkalihat juga menunjukkan peningkatan aktivitas yang cukup tajam. “Aktivitas di Sesar Mangkalihat meningkat hingga dua sampai tiga kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya,” kata Rasmid.
Selain itu, terdapat Sesar Sangkulirang yang pada 1921 pernah memicu gempa besar dengan magnitudo 7,0 disertai tsunami setinggi 1 meter. Di Kalimantan Selatan, Sesar Meratus yang membentang sepanjang Pegunungan Meratus juga memiliki potensi gempa besar hingga magnitudo 7,0. Sementara itu, Sesar Adang, sesar terpanjang di Kalimantan, membelah wilayah dari Singkawang dan Pontianak hingga ke pesisir timur Kabupaten Paser.
Wilayah rawan gempa meliputi Tarakan, Berau, Kutim, Bontang, Paser hingga Kalimantan Selatan. Wilayah Kalimantan Tengah relatif lebih stabil karena berada di tengah lempeng tektonik. Salah satu gempa yang paling dirasakan warga sepanjang 2025 terjadi di Tarakan dengan magnitudo 4,8 pada bulan lalu. “Itu baru 4,8 saja sudah cukup terasa. Padahal potensi gempa di wilayah ini bisa mencapai 7,0,” ungkapnya.
Rasmid menegaskan, berdasarkan sejarah kegempaan, gempa besar di Kalimantan berpotensi terulang di masa mendatang. Mitigasi harus diperkuat, termasuk melalui edukasi kebencanaan dan pemetaan mikrozonasi, khususnya di kota-kota besar seperti Balikpapan. Mikrozonasi adalah pemetaan detail suatu wilayah untuk mengetahui tingkat kerentanan terhadap gempa bumi berdasarkan kondisi geologi, jenis tanah, dan karakteristik lokal.
Polres PPU Awasi Ketat Penjualan Petasan dan Kembang Api Jelang Tahun Baru
Menjelang malam pergantian tahun, Polres Penajam Paser Utara (PPU) meningkatkan pengawasan terhadap peredaran petasan dan kembang api di Kecamatan Penajam. Pengawasan ini difokuskan pada aktivitas pedagang, untuk memastikan penjualan berlangsung sesuai ketentuan, dan tidak menimbulkan risiko bagi masyarakat.
Petugas dari Satuan Pembinaan Masyarakat (Sat Binmas) mendatangi sejumlah titik penjualan petasan dan kembang api. Petugas mengecek jenis barang yang dijual, legalitas perizinan, serta mengingatkan pedagang agar tidak melayani pembelian oleh anak di bawah umur. Kasat Binmas Polres PPU AKP Bambang Purnomo menyampaikan, pengawasan ini dilakukan sebagai langkah pencegahan, terhadap potensi gangguan keamanan dan kecelakaan yang kerap terjadi saat perayaan tahun baru.
“Petasan dan kembang api memiliki risiko jika tidak dijual dan digunakan sesuai aturan. Karena itu kami mengingatkan pedagang agar memperhatikan aspek keselamatan,” ungkapnya. Menurutnya, kepatuhan pedagang terhadap aturan sangat berpengaruh, pada situasi keamanan di lingkungan sekitar.
Penjualan tanpa izin atau barang yang tidak sesuai standar, dinilai berpotensi membahayakan pembeli maupun masyarakat umum. Selain memberikan peringatan, petugas juga menyampaikan imbauan, agar pedagang menjaga ketertiban di lokasi berjualan, serta menyimpan petasan dengan aman. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi kemungkinan terjadinya insiden menjelang dan saat malam pergantian tahun.
AKP Bambang menambahkan, peran masyarakat juga diperlukan untuk menciptakan suasana yang aman dan tertib. “Kami mengharapkan kerja sama semua pihak agar perayaan tahun baru dapat berlangsung tanpa gangguan dan tanpa kejadian yang merugikan,” ujarnya.
Profil dan Rekam Jejak AKBP Hendrik Eka Bahalwan, Eks Waka Polresta Balikpapan
Profil dan rekam jejak AKBP Hendrik Eka Bahalwan, mantan Waka Polresta Balikpapan yang kini bertugas di Baintelkam Polri. Ajudan Komisaris Besar Polisi (AKBP) Hendrik Eka Bahalwan dilantik menjadi Wakil Kepala Kepolisian Resor Kota (Waka Polresta) Balikpapan pada Jumat, 12 Januari 2023. Setelah 1 tahun 11 bulan mengabdi sebagai Waka Polresta Balikpapan, AKBP Hendrik Eka Bahalwan resmi mengakhiri masa tugasnya di Polresta Balikpapan, Selasa (30/12/2025).
Selama bertugas di Kota Balikpapan, ia turut mengawal dan menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di Balikpapan sebagai garda penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN). Selanjutnya, AKBP Hendrik mendapat amanah dan tugas baru untuk bergabung dalam jajaran Baintelkam Polri, bertugas di salah satu kementerian pada Kabinet Merah Putih.
Baintelkam adalah singkatan dari Badan Intelijen Keamanan, sebuah badan di bawah Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri). Baintelkam bertugas mengurus fungsi intelijen keamanan, mulai dari penyelidikan, penggalangan, hingga pengamanan untuk mencegah ancaman terhadap keamanan dan ketertiban masyarakat.
