
Pendahuluan
Banyak dari kita yang cukup sering mendengar tentang HIV/AIDS, tetapi tidak banyak dari kita yang benar-benar memahami bagaimana kehidupan Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di lingkungan masyarakat. Namun, masalah terbesar yang mereka hadapi tidak hanya berkaitan dengan kesehatan mereka saja, tetapi juga menghadapi stigma, pandangan orang, dan perlakuan sosial yang sering membuat hidup mereka jauh lebih sulit. Di sinilah sosiologi kesehatan membantu kita untuk memahami lebih dalam bahwa penyakit bukan hanya masalah medis, tetapi juga tentang cara masyarakat memahami dan memperlakukan penderitanya.
Lebih jauh lagi, sosiologi kesehatan menunjukkan bahwa takut, kurangnya pengetahuan, dan banyaknya mitos yang beredar di masyarakat seringkali menyebabkan stigma sosial terhadap ODHA. Banyak orang masih menganggap HIV sebagai penyakit memalukan atau hukuman moral, sehingga, ODHA dijauhi, didiskriminasi, bahkan kehilangan pekerjaan dan relasi sosial. Namun, HIV dapat dikendalikan dengan pengobatan yang tepat dan ODHA dapat hidup dengan sehat dan produktif seperti orang lain atau masyarakat pada biasanya. Nilai-nilai budaya dan norma sosial juga memengaruhi bagaimana masyarakat menangani penyakit. Dalam beberapa komunitas, ODHA sering takut dianggap buruk, yang membuat mereka enggan berobat atau memberi tahu orang lain tentang kondisi mereka. Hal ini dapat memperburuk kesehatan mereka dan menambah jarak sosial antara mereka dan lingkungan mereka. Pada akhirnya, sosiologi kesehatan menekankan bahwa pendidikan, empati, dan dukungan sosial sangat penting untuk membuat lingkungan yang lebih inklusif lagi.
Dengan demikian, memahami ODHA dari sudut pandang sosisologi kesehatan membantu kita memahami bagaimana pengobatan HIV/AIDS bukan hanya obat dan pengobatan medis, tetapi juga perubahan sikap masyarakat. Proses pemulihan fisik dan mental akan lebih mudah dicapai ketika masyarakat mau membuka diri, menghilangkan stigma, dan memerikan ruang aman bagi ODHA. Keluarga, lingkungan sekitar, dan komunitas sangat membantu ODHA menumbuhkan kepercayaan diri, rasa dihargai, dan keberanian untuk melakukan aktivitas sehari-hari tanpa takut. ODHA dapat kembali berdaya dan berpatisipasi penuh dalam kehidupan sosial jika masyarakat dapat menerima mereka tanpa prasangka, menjauhi, mendiskriminasi, dan menganggap mereka berbeda. Oleh karena itu, penanganan HIV/AIDS menjadi lebih menyeluruh karena tidak hanya berfokus pada masalah medis tetapi juga pada pemulihan hubungan sosial dan peningkatan kualitas hidup, yang menghasilkan lingkungan yang lebih manusiawi, inklusif, dan saling menguatkan.
Di Indonesia dan di seluruh dunia, HIV/AIDS masih menjadi masalah kesehatan yang signifikan. Berdasarkan penelitian yang berjudul “HIV/AIDS : Update Terkini di Indonesia”, pada tahun 2023, sekitar 39,9 juta orang di seluruh dunia hidup dengan HIV, dengan lebih dari 1,3 juta kasus baru per tahun. Data menunjukkan bahwa HIV masih tersebar luas dan belum sepenuhnya terkendalikan, terutama di negara-negara dengan sistem perawatan kesehatan yang tidak memadai. Meskipun terapi seperti antiretrovial (ARV) sudah sangat efektif dan dapat menekankan virus hingga tidak terdeteksi, masalah terbesar adalah bagaimana masyarakat merespon HIV. Tren peningkatan kasus juga masih terjadi di Indonesia. Pada tahun 2023, tercatat 57.299 kasus HIV dan 117.121 kasus AIDS, dengan provinsi seperti DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Penularan sering terjadi melalui hubungan seksual yang tidak aman, dan penggunaan jarum yang tidak steril, dan transmisi dari ibu ke anak. Diperkirakan lebih dari 5.000 kasus baru ditemukan pada ibu hamil setiap tahun, menunjukkan bahwa masalah ini tidak hanya terbatas pada kelompok tertentu, tetapi sudah ada di semua lapisan masyarakat.
Namun, tantangan HIV/AIDS tidak berhenti pada persoalan medis saja. Para ODHA di lapangan terus menghadapi stigma, ketakutan masyarakat dan perlakuan diskriminatif yang sering kali lebih mengerikan daripada penyakitnya sendiri. Banyak orang yang menderita HIV menahan diri untuk melakukan pemeriksaan atau memulai pengobatan karena mereka takut dihakimi, diajuhi, atau dianggap “berbeda”. Akibatnya, kasus sering tidak terdeteksi dengan cepat, dan penyebaran semakin sulit dikendalikan. Dengan melihat kondisi global dan nasional tersebut, jelas bahwa penanganan HIV/AIDS membutuhkan dua hal sekaligus seperti intervensi medis dan perubahan pola pikir masyarakat. Upaya media yang paling canggih sekalipun tidak akan berhasil tanpa mengurangi stigma, meningkatkan pemahaman, dan menyediakan tempat yang aman bagi ODHA. Akibatnya, pemahaman tentang kondisi HIV saat ini harus selalu dibarengi dengan pemahaman tentang cara masyarakat HIV dan ODHA.
HIV bukan lagi penyakit yang tidak dapat dikendalikan karena kemajuan medis. Terapi seperti antiretroviral (ARV) yang dapat membantu penderita hidup sehat dan mencegah perkembangan AIDS dan infeksi oportunistik yang sebelumnya menjadi penyebab utama komplikasi pada orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Meskipun kemampuan medis untuk menangani HIV terus meningkat, hambatan terbesar dalam penanggulangannya bukan lagi masalah medis, tetapi sikap masyarakat. Masalah terbesar saat ini adalah sikap masyarakat yang terus memandang HIV sebagai aib dan ancaman yang menyebabkan ODHA lebih menderita akibat stigma sosial daripada penyakitnya sendiri.
HIV/AIDS merasakan dampak sosial yang signifikan dari HIV/AIDS selain menjadi masalah kesehatan. Menurut beberapa penelitian yang dilakukan di Indonesia, ODHA masih sering distigma dan didiskriminasi di lingkungan sosialnya. Ninef et al (2023), menunjukkan bahwa ODHA masih dianggap negatif oleh masyarakat karena mereka percaya bahwa mereka menyebarkan penyakit dan harus dijauhi. Akibat dari pemoikiran tersebut, ODHA menghadapi pengucilan sosial, kesulitan, dalam menjalin hubungan. Sleian berdampak secara sosial, stigma juga berdampak langsung pada kondisi mental ODHA. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Lestari et al, (2024), menekankan bahwa hubungan antara stigma yang dirasakan dan munculnya depresi pada pasien HIV/AIDS. Mereka yang mengalami stigma tinggi cenderung merasa rendah diri, cemas, dan menjauh dari orang lain. Ini menunjukkan bahwa stigma tidak hanya bersifat sosial, tetapi juga menjadi hambatan besar untuk menjaga kualitas hidup.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa HIV/AIDS adalah masalah yang tidak hanya berkaitan dengan masalah medis tetapi juga berdampak pada kondisi sosial di sekitarnya. Pengalaman hidup ODHA dipengaruhi oleh diskriminasi dan stigma, mulai dari hubungan sosial, kondisi psikologis, hingga keberanian mendapat perawatan kesehatan. Situasi ini menunjukkan bahwa kemajuan dalam pengobatan tidak cukup untuk memerangi HIV/AIDS secara efektif, melainkan perubahan perspektif masyarakat terhadap ODHA juga diperlukan. Oleh karena itu, penting untuk memahami HIV/AIDS dari sudut pandang sosial. Diharapkan pendekatan yang menggabungkan aspek medis dan sosial dapat membantu pencegahan dan perawatan HIV/AIDS secara berkelanjutan dan menciptakan lingkungan yang lebih menerima, aman, dan mendukung ODHA.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk memahami HIV/AIDS bukan hanya sebagai masalah kesehatan tetapi juga sebagai masalah sosial yang berkaitan dengan stigma, sikap masyarakat, dan pengalaman hidup ODHA. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, penulisan ini menentukan bagaimana pandangan dan perlakuan masyarakat memengaruhi kehidupan orang dengan HIV/AIDS. Metode studi kepustakaan digunakan dalam penelitian ini, karena penelitian ini tidak melalukan pengumpulan data secara langsung di lapangan. Data yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari berbagai sumber penulisan, termasuk jurnal ilmiah, artikel penelitian, laporan kesehatan, dan publikasi akademik lainnya yang membahas HIV/AIDS dan stigma sosial.
Pengumpulan data dilakukan dalam beberapa tahap. Pertama, mencari literatur tentang HIV/AIDS dan stigma sosial. Tahap kedua adalah pembacaan, di mana penulis membaca literatur yang telah ada terlebih dahulu dan menulis poin penting tentang sikap masyarakat terhadap ODHA, dan tahap ketiga adalah pengelompokan data, di mana informasi berdasarkan tema-tema tertentu, seperti bentuk stigma dan diskriminasi, dampak sosial dan psikologis stigma, serta peran lingkungan sosial dalam kehidupan ODHA. Untuk membuat data penelitian ini mudah untuk dipahami, dalam penulisan ini membandingkan temuan dari beberapa penelitian untuk melihat apakah ada kesamaan dan perbedaan dalam temuan terkait stigma terhadap ODHA. Tujuan dari perbandingan ini adalah untuk mendapatkan gambaran yang lebih baik tentang kondisi sosial yang dihadapi oleh ODHA.
Dalam penulisan ini menggunakan perspektif sosiologi kesehatan sebagai sudut pandang utama dalam menganalisis data. Perspektif ini membantu penulis memahami bahwa faktor sosial, budaya, dan lingkungan memengaruhi penyakit selain biologis. Menurut perspektif ini, HIV/AIDS dianggap sebagai penyakit yang maknanya dibentuk oleh cara masyarakat melihat dan memperlakukan ODHA. Untuk menjaga ketelitian dan keakuratan diskusi, penulis berusaha untuk menggunakan banyak sumber rujukan saat membahas satu topik. Hal ini dilakukan agar pembahasan ini tidak bersifat sepihak dan dapat menggambarkan kondisi ODHA secara lebih objektif. Selain itu, penggunaan berbagai sumber bahwa stigma sosial terus menjadi masalah utama dalam pengobatan HIV/AIDS.
Penelitian ini hanya menggunakan data sekunder dari studi kepustakaan, sehingga memiliki keterbatasan. Oleh karena itu, temuan penelitian ini tidak memberikan gambaran langsung tentang pengalaman orang-orang yang didefinisikan sebagai ODHA di lapangan. Namun, penelitian ini penting karena berdasarkan penelitian sebelumnya, dapat memberikan gambaran umum tentang bagaimana masyarakat stigmatisasi dan melihat ODHA. Diharapkan penelitian ini akan memberikan pemahaman yang lebih luas tentang HIV/AIDS sebagai masalah sosial. Pendekatan yang digunakan akan menunjukkan bahwa pengobatan HIV/AIDS berhasil tidak hanya bergantung pada kemajuan dalam pengobatan medis, tetapi juga perubahan sikap masyarakat dan dukungan sosial untuk ODHA.
Kajian Teori
Stigma Sosial dan Diskriminasi terhadap ODHA
Stigma sosial adalah salah satu konsep utama dalam memahami pengalaman sosial Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). Stigma muncul ketika seseorang atau kelompok tertentu diberi label negatif, yang membuat mereka dianggap berbeda dan tidak diterima secara sosial. Dalam konteks HIV/AIDS, stigma sering dikaitkan dengan gagasan bahwa penyakit tersebut dikaitkan dengan perilaku menyimpang, sehingga ODHA dianggap sebagai pihak yang “bersalah” atas penyakitnya. Akibatnya, ODHA sering menghadapi diskriminasi dalam berbagai aspek kehidupan mereka, mulai dari lingkungan keluarga, masyarakat, hingga tempat kerja. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ODHA masih sangat distigmatisasi, terutama di negara berkembang. Tidak hanya penolakan secara langsung, stigma ini juga tercermin dalam sikap menjauh, pembatasan, interaksi sosial, dan perlakuan tidak adil dalam pelayanan publik. Akibatnya, ODHA sering merasa tidak aman dan nyaman untuk memberikan informasi tentang kondisi kesehatan mereka. Hal ini menunjukkan bahwa stigma HIV/AIDS bukan hanya masalah persepsi individu, tetapi itu adalah masalah sosial yang berakar pada nilai, norma, dan cara masyarakat melihat masalah tersebut (Fadhila et al., 2022).
Stigma dan Dampak Psikologis bagi ODHA
Stigma sosial berdampak pada psikologis dan hubungan sosial. Terdapat penelitian di RS Islam Jakarta yang menunjukkan hubungan yang kuat antara stigma yang dirasakan pada pasien HIV/AIDS dan gejala depresi mereka, yang dapat memperburuk kualitas hidup ODHA. ODHA yang merasa distigma cenderung menghindari interaksi sosial dan layanan kesehatan, menyebabkan kondisi kesehatan mereka menjadi lebih buruk (Lestari et al., 2023). Selain itu, tekanan psikologis yang disebabkan oleh stigma sering membuat ODHA menarik diri dari lingkungan sosial dan tidak berani menceritakan status kesehatannya kepada orang lain, Stigma kemudian memperburuk kondisi mental ODHA, yang dapat memengaruhi keputusan mereka untuk mendapatkan perawatan medis atau dukungan sosial (Tristanto et al., 2022).
Stigma Masyarakat sebagai Fenomena Sosial
Stigma dalam sosiologi kesehatan adalah komponen sosial yang dibentuk oleh nilai, norma, budaya, dan hubungan kekuasaan dalam masyarakat. Menurut teori konstruksi sosial, stigma berasal dari cara masyarakat memaknai HIV/AIDS dan ODHA. Persepsi negatif terhadap HIV/AIDS dan ODHA. Perspesi negatif terhadap HIV/AIDS sering dikaitkan dengan makna moral yang diberikan masyarakat terhadap perilaku yang terkait dengan penularan. Dalam penelitian Tristanto et al., (2022), menekankan bahwa stigma terhadap ODHA dapat muncul di berbagai tingkat sosial, seperti keluarga, komunitas, sekolah, dan fasilitas kesehatan. Ini menunjukkan bahwa stigma bukan hanya masalah persepsi individu, tetapi juga bagian dari struktur sosial yang lebih luas yang membentuk cara masyarakat berinteraksi dengan ODHA.
Pengaruh Tingkat Pengetahuan terhadap Stigma
Menurut penelitian Puspita et al., (2023), menjelaskan bahwa pengetahuan masyarakat tentang HIV/AIDS merupakan faktor penting yang memengaruhi sikap stigma terhadap Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). Masyarakat yang lebih sedikit tahu tentang HIV/AIDS cenderung menstigma ODHA lebih tinggi daripada masyarakat yang lebih banyak tahu. Hasilnya menunjukkan bahwa salah satu faktor yang menyebabkan pandangan negatif dan diskriminatif terhadap ODHA adalah kurangnya pemahaman tentang cara penularan, pencegahan, dan penanganan HIV/AIDS. Ketidaktahuan sering dikaitkan dengan kesalahan persepsi masyarakat, seperti percaya bahwa HIV dapat menular melalui kontak sehari-hari, yang sebenarnya tidak berisiko atau menganggap bahwa HIV/AIDS sebagai hukuman moral untuk tindakan tertentu. Pemahaman yang salah menyebabkan stereotip negatif terhadap ODHA muncul sebagai akibat dari kesalahan pengetahuan ini dan pemahaman yang salah. Oleh karena itu, upaya untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat dianggap sebagai langkah penting dalam mengubah pemikiran negatif dan mengurangi stigma yang melekat pada ODHA (Astuti et al., 2023).
Persepsi dan sikap sosial menunjukkan seberapa besar pengetahuan tentang HIV/AIDS. Terdapat penelitian di Desa Naras I, terdapat persepsi yang lebih positif terhadap ODHA dan kurangnya stigma dikaitkan dengan pengetahuan yang lebih besar. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat yang lebih mengasihi dan menerima ODHA di lingkungan mereka. Hubungan ini menegaskan, bahwa pendidikan masyarakat bukan sekedar memberikan informasi tetapi juga mengubah perspektif tentang ODHA sebagai individu dan bukan sekedar sebagai “penyebab penyakit” (Nur et al., 2022). Selain itu, terbukti bahwa menurunkan stigma secara langsung dibantu oleh upaya peningkatan pengetahuan melalui kampanye pendidikan dan kesehatan. Misalnya, sebagai bagian dari program pengabdian masyarakat, kegiatan edukasi masyarakat tentang cara penularan dan pencegahan HIV/AIDS telah dilakukan untuk mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap ODHA. Tindakan ini menunjukkan bahwa ketika masyarakat menerima informasi yang benar dan akurat, respons sosial terhadap ODHA dapat menjadi lebih positif dan inklusif (Erwansyah et al., 2025).
Perbedaan Stigma dalam Konteks Sosial yang Beragam
Stigma terhadap Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) tidak terjadi secara seragam di seluruh masyarakat, tetapi sangat dipengaruhi oleh konteks sosial, budaya, pendidikan, dan lokasi tempat tinggal masyarakat. Studi empiris yang dilakukan di Indonesia menunjukkan bahwa stigma terhadap ODHA berbeda di berbagai wilayah. Ini menunjukkan bahwa persepsi dan respons sosial berbeda-beda di antara kelompok masyarakat. Misalnya, penelitian di Provinsi Sulawesi Selatan menemukan bahwa ada perbedaan dalam pengetahuan dan akses ke informasi tentang HIV/AIDS di masyarakat perkotaan dan pedesaan. Ini berdampak pada tingkat stigma dan diskriminasi terhadap ODHA. Hasilnya menunjukkan bahwa stigma dipengaruhi oleh orang lain dan lingkungan sosial mereka, termasuk norma budaya dan struktur komunitas setempat (Handayani., 2022).
Selain itu, terdapat penelitian lainnya yang membahas pengalaman stigma ODHA di Sumatera Barat yang menunjukkan bahwa stigma tidak hanya bersifat sosial tetapi juga dapat dibedakan berdasarkan jenisnya, seperti stigma simbolik instrumental, dan moral. Penelitian tersebut menemukan perbedaan tingkat stigma di berbagai dimensi, dengan stigma instrumental dianggap sedang, sedangkan stigma simbolik dan moral menunjukkan perbedaan pada populasi yang diteliti. Perbedaan ini menunjukkan bahwa jenis dan intensitas stigma dapat berbeda tergantung pada latas sosial dan pengalaman komunitas dengan HIV/AIDS (Tristanto et al., 2022).
Perbedaan ini juga tidak terlepas dari peran informasi dan pendidikan. Komunitas yang memiliki akses yang lebih baik terhadap edukasi kesehatan dan informasi yang akurat tentang HIV/AIDS cenderung menunjukkan tingkat stigma yang lebih rendah. Sebaliknya, kelompok masyarakat yang memiliki akses yang lebih sedikit atau yang dipengaruhi oleh rumor, mitos, dan asumsi budaya cenderung mempertahankan tingkat stigma yang lebih kuat. Variasi ini menunjukkan bahwa stigma adalah fenomena yang dibentuk oleh interaksi antara pengetahuan individu, struktur sosial, dan lingkungan budaya mereka.
Pembahasan
Menurut Ninef et al., (2023), menjelaskan bagaimana stigma sosial terhadap Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) menjadi kendala utama dalam penanganan HIV/AIDS di masyarakat Indonesia. Berdasarkan penelitian dan temuan empiris yang ada penelitian ini, stigma sosial merupakan manifestasi sikap negatif, prasangka, dan diskriminasi. Stigma sosial berdampak pada kehidupan sosial ODHA serta kesehatan fisik dan mental mereka serta efektivitas perawatan medis yang mereka terima. Stigma sosial ini masih kuat di beberapa komunitas di Indonesia, menunjukkan bahwa HIV/AIDS adalah masalah sikap dan pemahaman sosial yang kompleks selain masalah medis. Hal ini menegaskan bahwa HIV/AIDS telah berubah dari sekedar persoalan medis menjadi persoalan sosial yang erat kaitannya dengan persepsi dan sikap masyarakat.
Pada penelitian yang berjudul “Pelajari HIV, Hentikan Stigma dan Diskriminasi Orang dengan HIV/AIDS (ODHA), menekankan bahwa HIV/AIDS bukan semata-mata masalah medis tetapi juga masalah sosial yang menantang, terutama karena stigma dan diskriminasi yang kuat terhadap Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di masyarakat Indonesia. Secara teoritis, stigma berasal dari konstruksi sosial di mana orang-orang memberi label, stereotip, dan diskriminasi kepada ODHA. Hal ini terjadi karena pemahaman yang salah tentang penyebaran HIV/AIDS yaitu norma sosial dan nilai budaya. Stigma seperti ini tidak berasal dari pendapat individu, yaitu berasal dari keyakinan yang ada di masyarakat dan diperkuat oleh interaksi sosial sehari-hari (Balatif, 2019).
Kurangnya pemahaman dan informasi yang akurat tentang HIV/AIDS di kalangan masyarakat umum merupakan komponen penting yang mendorong stigma. Puspita et al., (2023), menekankan bahwa mayoritas responden tidak tahu banyak tentang HIV/AIDS, yang dikaitkan dengan stigma yang tinggi terhadap ODHA. Hal itu dapat diperjelas bahwa ketika masyarakat tidak memahami cara penularan, pencegahan, atau fakta bahwa ODHA dapat hidup sehat dengan pengobatan yang tepat, mereka cenderung mengisi celah dengan asumsi salah satu prasangka negatif. Dalam situasi ini, stigma dianggap “normal” dalam hubungan sosial. Lebih jauh lagi, stigma tidak hanya berasal dari ketidaktahuan tentang kesehatan. Stigma dan penilaian moral yang kuat terhadap perilaku tertentu meningkatkan saat HIV/AIDS dipahami dari perspektif nilai moral dan budaya. Di banyak masyarakat, stereotip negatif sering dikaitkan dengan penyakit ini, seperti gagasan bahwa HIV adalah akibat dari perilaku seksual menyimpang atau keputusan yang “tidak bermoral”, Akibatnya, ODHA tidak hanya dianggap memiliki “kesalahan moral”. Ini menjelaskan mengapa stigma masih ada bahkan di kalangan orang yang berpendidikan. Pendidikan saja bahkan tidak cukup jika tidak ada pemahaman sosial yang penting tentang penyakit tersebut.
Fenomena ini menunjukkan dalam sosiologi kesehatan bahwa penyakit adalah fenomena sosial yang signifikan daripada hanya masalah biologis. Cara masyarakat memahami HIV/AIDS memengaruhi reaksi sosial terhadap ODHA. Jika pemahaman tersebut dipenuhi dengan ketakutan, prasangka, asumsi moral, stigma sosial akan muncul dalam bentuk tindakan seperti pengucilan, penolakan interaksi sosial, dan diskriminasi di tempat kerja dan layanan kesehatan. Untuk contohnya, terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa stigma sosial di masyarakat dapat mendorong ODHA untuk menyembunyikan kondisi kesehatan mereka untuk menghindari kritik sosial. Stigma masih melekat pada masyarakat karena masyarakat tidak dapat membedakan antara keyakinan moral dan kondisi medis (Balatif, 2019).
Bagi ODHA, stigma sosial juga memiliki dampak psikologis yang signifikan. Ini termasuk mengembangkan apa yang disebut self-stigma, yaitu internalisasi pandangan negatif yang dimiliki individu tentang masyarakat. Ketika ODHA terus mengalami sikap negatif atau dipersepsikan sebagai “ancaman” mereka dapat mulai merasa malu, rendah diri, atau bahkan menyalahkan diri sendiri karena keadaan mereka. Fenomena self-stigma ini meningkatkan isolasi sosial dan dapat berdampak pada kesehatan mental, seperti depresi dan kecemasan. Terdapat penelitian yang mencatat hubungan antara stigma sosial dan tekanan psikologis. Hasilnya menunjukkan bahwa stigma tidak hanya berdampak pada resepsi sosial, tetapi juga memengaruhi seluruh kehidupan ODHA (Lestari et al., 2023).
Selain itu, berbagai struktur sosial masyarakat menyebabkan berbagai jenis dan intensitas stigma yang dialami oleh perbedaan dalam konteks budaya, tingkat akses informasi, dan struktur sosial, sehingga masyarakat perkotaan mungkin mengalami stigma yang berbeda dari masyarakat pedesaan. Penelitian di berbagai wilayah Indonesia memperlihatkan bahwa stigma tidak hanya muncul dalam bentuk diskriminasi langsung, tetapi juga dalam bentuk penolakan halus, seperti menghindari berinteraksi dengan orang lain atau menawarkan stereotip negatif yang tidak tercatat secara formal. Keanekaragaman konteks sosial ini menunjukkan bahwa stigma adalah fenomena yang dipengaruhi oleh banyak faktor, bukan hanya pengetahuan pribadi. Nilai-nilai budaya dan struktur sosial lokal juga terdapat pada fenomena ini (Handayani, 2020).
Sikap diskriminatif yang sering terlihat dalam relasi sosial sehari-hari disebabkan oleh kurangnya informasi, nilai sosial yang kuat, dan konstruksi moral tersebut. ODHA sering diperlakukan dengan cara yang tidak manusiawi oleh masyarakat, seperti melarang mereka berinteraksi, melarang mereka mengambil bagian dalam kegiatan komunitas, atau membatasi hak sosial lainnya. Diskriminasi seperti ini tidak hanya menghalangi ODHA untuk berpartisipasi secara sosial, tetapi juga mempersulit pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS. ODHA yang merasa tidak aman cenderung menunda pemeriksaan, tidak terlibat dalam jejaring sosial atau layanan kesehatan yang ada, dan tidak mencari dukungan ketika diperlukan (Balatif, 2019).
Akibatnya, stigma sosial tidak hanya menyebabkan respons sosial yang negatif terhadap penyakit, tetapi juga merupakan faktor struktural yang menyebabkan perkembangan kesehatan menjadi lebih buruk. Program pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS menjadi kurang efektif karena stigma menghalangi ODHA untuk mendapatkan perawatan medis yang tepat. Hal ini menunjukkan bahwa upaya medis seperti pemberian ARV dan layanan kesehatan hanya dapat berhasil jika tidak ada perubahan sikap sosial yang signifikan. Model kesehatan holistik yang ideal harus mencakup metode sosial untuk mengurangi stigma, seperti peningkatan penidikan masyarakat, kampanye informasi yang lebih akurat, dan pembentukan lingkungan sosial yang lebih inklusif dan mendukung. Meskipun perubahan sikap sosial bukan hal yang instan, intervensi sosial seperti kampanye dan penyuluhan terbukti membantu mengurangi stigma. Pendidikan kesehatan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang cara mencegah penularan HIV/AIDS dan pencegahannya. Ingin dapat menyebabkan pemahaman yang lebih realistis dan empati terhadap ODHA. Jika masyarakat tahu bahwa HIV tidak menular melalui interaksi sosial biasa dan dapat dikendalikan dengan perawatan yang tepat, sikap diskriminatif akan berkurang. Ini menunjukkan bahwa perubahan sosial yang didukung oleh informasi yang benar dapat membantu menghapus stigma yang menghambat interaksi sosial ODHA (Ahmad et al., 2024).
Meskipun demikian, perlu diingat bahwa perubahan sikap sosial memerlukan waktu dan usaha yang konsisten. Norma, nilai, budaya, dan struktur sosial yang telah dinternalisasi sejak lama disebut stigma. Oleh karena itu, upaya untuk mengurangi stigma harus mencakup berbagai metode, seperti pendidikan formal dan informal, pelibatan tokoh masyarakat untuk mendorong pemahaman yang tepat dan kebijakan yang menjamin hak asasi ODHA di berbagai sektor kehidupan. Stigma akan tetap menjadi hambatan besar bagi upaya penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia jika tidak ada pendekatan yang komprehensif ini. Secara keseluruhan, pembahasan ini menunjukkan bahwa stigma terhadap ODHA bukan hanya masalah pendapat individu, tetapi hal tersebut adalah fenomena sosial yang kompleks yang membutuhkan pemahaman, intervensi, dan strategi untuk mengubah perilaku dalam masyarakat. Karena itu, HIV/AIDS bukan hanya masalah medis, tetapi itu adalah reflesi dari cara masyarakat memahami, merespon, dan memperlakukan kelompok yang berbeda.
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa HIV/AIDS saat ini bukan hanya masalah medis, tetapi itu adalah masalah sosial yang dipengaruhi oleh pandangan, persepsi, dan konstruksi sosial masyarakat. Meskipun kemajuan dalam medis memungkinkan ODHA untuk hidup sehat dan produktif melalui terapi ARV, kualitas hidup mereka masih sangat dipengaruhi oleh respons sosial yang mereka terima. Salah satu hambatan terbesar dalam penanggulangan HIV/AIDS secara menyeluruh adalah stigma dan diskriminasi. Pembahasan ini menunjukkan bahwa stigma sosial terhadap ODHA disebabkan oleh kurangnya pengetahuan masyarakat, persepsi masyarakat, persepsi yang salah tentang bagaimana HIV menyebar, dan kekuatan nilai moral dan norma budaya yang dikaitkan dengan HIV/AIDS dan perilaku menyimpang. Akibatnya, ODHA sering kali diperlakukan secara tidak adil, dijauhi dalam interaksi sosial, dan menghadapi diskriminasi dalam kehidupan sosial dan akses ke layanan kesehatan. Stigma ini berdampak pada relasi sosial ODHA serta kondisi psikologis mereka, seperti rasa malu, rendah diri, kecemasan, dan depresi. Tekanan sosial sering kali mendorong ODHA untuk menyembunyikan kondisi kesehatan mereka dan tidak mencari pengobatan, yang pada akhirnya memperburuk kondisi mereka dan meningkatkan risiko penularan.
Melalui perspektif sosiologi kesehatan, HIV/AIDS dapat dianggap sebagai peristiwa sosial yang berkontribusi pada interaksi, nilai, dan struktur sosial masyarakat. Masyarakat memberi label, menilai, dan merespon orang yang hidup dengan HIV/AIDS terkait erat dengan penyakit ini sebagai masalah biologis. Akibatnya pencegahan HIV/AIDS berhasil tidak hanya memerlukan intervensi medis, tetapi juga perubahan sikap sosial yang signifikan. Oleh karena itu, penanganan HIV/AIDS harus dilakukan secara menyeluruh dengan menggabungkan pendekatan medis dan sosial. Edukasi masyarakat, penyebaran informasi yang akurat, penguatan empati, dan pembentukan lingkungan sosial yang inklusif dan aman bagi ODHA adalah langkah penting untuk mengurangi stigma dan diskriminasi. Kualitas hidup ODHA akan meningkat dan tujuan penanggulangan HIV/AIDS akan tercapai jika masyarakat melihat ODHA sebagai orang yang setara dan berharga daripada ancaman.
Daftar Pustaka
Ahmad, M., Fernandez, G. V., & Kundre, R. M. (n.d.). Jurnal Abmas Negeri (JAGRI). Peningkatan Kesadaran Masyarakat tentang Cara Penularan dan Pencegahan HIV/AIDS Melalui Penyuluhan Stop Stigma dan Diskriminasi terhadap ODHA, 5(1). Astuti, W., AW, Karlasemi, e. R., Asih, D. D., & Novitasari, D. (2023). Jurnal Ilmiah Wijaya. HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG HIV/ AIDS DENGAN STIGMA HIV/AIDS, 15(1). Balatif, R. (2019). Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia. PELAJARI HIV, HENTIKAN STIGMA DAN DISKRIMINASI ORANG DENGAN HIV/AIDS (ODHA), 7(2). Erwansyah, R. E., Islamy, A., Farida, F., Surtini, S., Yitno, Y., & Suciati, S. (2025). Jurnal Peduli Masyarakat. Edukasi HIV/AIDS untuk Mengurangi Stigma terhadap ODHIV Dalam Peringatan Hari AIDS Sedunia, 7(4). Fadhila, A. N., Iyar Siswandi, Chairunnisa, D., & Kamil, A. R. (2022). Indonesian Journal of Nursing Sciences Practice. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Stigma Masyarakat Terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODHA),
