
PLTS semakin diminati, tidak hanya oleh perusahaan tetapi juga oleh masyarakat rumah tangga. Namun di beberapa daerah, mendapatkan kuota PLTS atap masih sulit.on-grid-- yang terhubung dengan jaringan listrik PLN -- bukan hal yang sederhana. Kuotanya terbatas. Mereka yang tertarik harus "ngewar”.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Alam menentukan batas maksimum pembangkit listrik tenaga surya atap on-gridSetiap tahun, kuota tersebut selanjutnya dibagikan ke berbagai wilayah dalam sistem kelistrikan. PLN membuka pendaftaran kapasitas atau lelang kuota sebanyak dua kali dalam setahun, yaitu pada bulan Januari dan Juli, melalui aplikasi PLN Mobile.
Di lapangan, kuota di beberapa wilayah sering habis saat lelang pada bulan Januari. "Pada bulan Juli sudah tidak ada (kuota)," ujar seorang pejabat dari pemerintah provinsi Jakarta kepadaErfa Pulsa -.
Tidak hanya perusahaan dan individu, tetapi juga kementerian, lembaga, hingga pemerintah daerah harus mematuhi prosedur lelang jika ingin memasang pembangkit listrik tenaga surya atap.on-grid. Namun demikian, berdasarkan sumber tersebut, Jakarta hingga saat ini selalu mendapatkan kuota sesuai dengan rencana.
Tingginya permintaan terlihat dari penyampaian PLN menjelang lelang pada Januari 2026. Dari total kuota sebesar 485 megawatt (MW) tahun ini, sebanyak 304 MW telah diambil oleh daftar antrian. Artinya, kapasitas yang benar-benar tersedia untuk diperebutkan hanya 183 MW secara nasional.
Dengan antrian yang panjang dan kuota yang cepat habis, tidak semua penggemar mendapatkan kesempatan. Di tengah keterbatasan tersebut, sebagian pengembang dan masyarakat mulai mempertimbangkan opsi lain: pembangunan PLTS secaraoff-grid yang tidak tergantung pada kuota jaringan PLN.
Permintaan yang Tinggi dan Ketersediaan Terbatas, Pengembang Menawarkan Solusi Off-Grid
Manajer Direktur perusahaan pengembang proyek energi surya Xurya Daya Indonesia, Eka Himawan, mengakui antusiasme masyarakat yang cukup besar terhadap penerapan PLTS atap. "Sebenarnyademand lebih banyak dari pelanggan (kuota),” katanya kepadaErfa Pulsa -, beberapa waktu lalu.
PLTS atap on-gridmasih menjadi pilihan karena pembangkit energi surya bersifat tidak terus-menerus atau bergantung pada kondisi cahaya matahari. Koneksi dengan jaringan PLN menjadi keuntungan tambahan, agar dapat memastikan ketersediaan pasokan listrik saat cuaca tidak mendukung. Masalah stabilitas sebenarnya dapat diatasi dengan menggunakan baterai penyimpanan atauBattery Energy Storage System (BESS), namun tentu saja biaya pemasangannya menjadi lebih tinggi.
Menurut Eka, minat industri terhadap listrik bersih dari pembangkit listrik tenaga surya atapon-grid terlihat dari tindakan salah satu klien mereka, NWP Property. NWP Property memasang PLTS Atap di empat pusat perbelanjaan miliknya yaitu The Park Pejaten, Citiplaza Bondowoso, Citimall Garut, dan The Park Semarang, dengan total kapasitas 2.000 kilowatt peak (kWp).
Dari instalasi tersebut, produksi listrik diperkirakan mencapai 3,3 juta kilowatt jam (kWh) setiap tahun. Emisi yang dikurangi sekitar tiga juta kilogram karbon per tahun, setara dengan penanaman lebih dari 39 ribu pohon.
Di tengah keterbatasan kuota pembangkit listrik tenaga surya atapon-grid, saat ini para pengembang energi surya berusaha mempromosikan PLTS atapoff-grid, terutama di daerah yang belum terjangkau atau belum sepenuhnya mendapatkan akses jaringan listrik PLN.
“Kami mulai ke off-grid, jadi kami ke pulau-pulau, resort,ujarnya. Salah satu proyek yang telah selesai dibangun adalah untukresortdi Pulau Seraya Kecil, dekat Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur.
PLTS memiliki kapasitas 300 kWp dan didukung baterai dengan kapasitas 770 kWh untuk memastikan kestabilan pasokan. PLTS ini diperkirakan mampu menghasilkan 410.000 kWh listrik bersih setiap tahun, yang cukup untuk memenuhi 80 hingga 85 persen kebutuhan operasional harian.resort tersebut.
“Kalau kuota PLTS on-griddiperluas akan jauh lebih baik, tetapi jika tidak diperluasya"itulah tugas kami untuk mencari perluasan sendiri," ujar Eka.
PLTS Atap Non-Grid Milik Keluarga: Harga "Mahal" Dari Kemandirian
Di sebuah unggahan video di akun Instagram pribadinya @bapakcanggih, kreator konten asal Bandung Ilham Bachtiar menunjukkan rumahnya yang tetap terang pada malam hari, sementara rumah-rumah lain di kompleksnya gelap karena pemadaman listrik PLN. “Nyaman menggunakan PLTS”off-grid, pada siang hari produksi listrik, sedangkan malamnya kita menikmati listrik secara gratis," kata Ilham dalam video tersebut.
Pada video lainnya, ia menjelaskan bahwa PLTS atap masih mampu menghasilkan listrik saat hujan, meskipun kapasitas energinya tidak optimal. Dengan bantuan baterai sebagai alat penyimpan energi, pasokan listrik tetap dapat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya.
Kepada Erfa Pulsa -, Ilham yang menggambarkan dirinya di akun Instagram sebagai "Pria yang menyukai alat canggih" ini bercerita, tertarik beralih ke energi terbarukan karena menggunakan kendaraan listrik. Ia kemudian memasang PLTS atap sendiri, tanpa memakai jasa pemasangan.
PLTS atap off-grid yang mulai beroperasi pada awal tahun 2024 secara bertahap menggantikan pasokan listrik dari PLN. Dimulai dengan menyediakan daya untuk kendaraan listrik, lampu luar, CCTV, dan WiFi, kini PLTS atap tersebut telah menyuplai perangkat elektronik di seluruh rumah.
"Sebelumnya, tagihan listrik saya mencapai Rp 700 ribu hingga Rp 1 juta setiap bulan, sekarang dalam setahun saya hanya mengeluarkan biaya sekitar Rp 250 ribu," ujar Ilham. Listrik dari PLN hanya digunakan sesekali, ketika energi yang tersimpan di baterai dari PLTS atap mulai menurun.
Saat ini, kapasitas total PLTS atap yang terpasang di rumahnya mencapai 5.640 Watt-peak, didukung oleh baterai berkapasitas 48 Volt 750 ampere-hour atau setara dengan 36 kWh serta inverter sebesar 6 kilowatt ditambah 10 kilowatt.
Ini dapat memenuhi kebutuhan listrik rumah tangga yang menggunakan mesin cuci, pendingin ruangan atau AC, serta pemanas air,air fryer, microwave,TV, kulkas, rice cooker, dan tiga unit sepeda motor listrik.
Meskipun terhindar dari tagihan listrik bulanan yang besar, biaya awal dalam pemasangan PLTS diakui olehnya cukup tinggi. "Sampai saat ini dana yang dikeluarkan berkisar di atas Rp 80 juta," kata Ilham. Ini merupakan biaya pemasangan sendiri, tanpa menggunakan jasa pemasangan.
Ilham memperkirakan, baru akan kembali modal delapan tahun ke depan. Namun bagi dirinya, hal itu bukan menjadi kendala karena tujuan utamanya adalah peralihan menuju energi bersih dan kemandirian.
