
Oleh: Willfridus Demetrius Siga
Dosen di Universitas Katolik Parahyangan Bandung.
Erfa Pulsa -Beberapa waktu terakhir, sistem pendidikan negara ini tengah menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat.
Secara singkat, mengenai hak dan kewajiban, tanggung jawab, nasionalisme, serta pengabdian terhadap tanah air.
Pikiran saya selanjutnya berfokus pada Nusa Tenggara Timur (NTT) yang menempati peringkat kelima dalam jumlah penerima LPDP terbanyak di luar Pulau Jawa pada tahun 2025.
Ada pertanyaan yang menarik, mengapa lulusan perguruan tinggi, baik yang melalui program beasiswa seperti LPDP maupun jalur mandiri di universitas negeri atau swasta berkualitas, jarang kembali dan berkontribusi untuk NTT?
Bagaimana dengan mereka yang berani kembali ke NTT? Pasti banyak pilihan karier yang diambil, baik sebagai Aparatur Sipil Negara, menjadi konsultan politik, membangun karier di dunia politik nyata, kembali ke lembaga atau tempat kerja sebelumnya, serta secara mandiri atau melalui pendanaan hibah memilih menjadi aktivis dan memberikan kontribusi sukarela untuk NTT.
Dari segi jumlah dan mutu lulusan, setidaknya setiap kabupaten/kota di NTT memiliki satu lulusan LPDP atau dari universitas negeri/swasta ternama dengan berbagai bidang studi: pendidikan, sosial, humaniora, STEM, ilmu politik, bahasa, kesehatan, farmasi, dan lain sebagainya.
Menanggapi hal ini, diperlukan langkah-langkah strategis yang terencana untuk mengintegrasikan lulusan perguruan tinggi dengan penguatan ekosistem lokal di NTT. Strategi tersebut tentu tidak mudah.
Salah satu alasan yang umum adalah kehilangan sumber daya manusia akibat rasa takut, kecemasan, serta khawatir tentang masa depan yang tidak menjanjikan jika kembali ke NTT dengan berbagai keterbatasan, terutama karena ekosistem ekonomi yang belum kuat dan siap menerima bidang ilmu yang telah dikuasai.
Tanpa bermaksud mengurangi peran lulusan perguruan tinggi yang berkontribusi dalam pembangunan di NTT melalui berbagai kegiatan dan bidang pekerjaan, pertanyaan yang belum memiliki jawaban jelas adalah, mengapa NTT masih berada di posisi sepuluh besar provinsi paling miskin?
Mengapa kita masih belum menyelesaikan masalah kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan yang merupakan hak dasar bagi setiap warga?
Meskipun survei yang dilakukan oleh Voxpol Center Research and Consulting menunjukkan bahwa 80,5 persen masyarakat mengaku puas dengan kinerja pemerintah provinsi, masih terdapat beberapa catatan yang perlu menjadi fokus perbaikan, seperti pertumbuhan ekonomi, akses infrastruktur yang memadai, serta tersedianya lapangan kerja khususnya di sektor formal.
Kemudian, apa akar permasalahannya? Kita harus jujur dan rendah hati dalam mengakui bahwa NTT merupakan wilayah non-industri yang memiliki peluang kerja serta ekosistem bisnis yang mendukung.
Produk pertanian negara kita masih lebih banyak diminati pasar dalam negeri. Meskipun ada varietas unggulan yang telah masuk ke pasar nasional dan internasional seperti kopi. Sektor perikanan kita juga masih lebih banyak dikonsumsi oleh pasar lokal.
Hasil laut yang melimpah menyediakan berbagai jenis ikan kaya akan protein, namun kita belum memiliki industri pengolahan ikan yang didukung oleh fasilitas teknologi modern dan mampu menyerap tenaga kerja setempat.
Di bidang pendidikan, perguruan tinggi di NTT masih didominasi oleh jurusan pendidikan, kesehatan, dan agama. Jurusan-jurusan ini menarik banyak mahasiswa serta menghasilkan lulusan yang paling banyak.
Maka perlu pula mempersiapkan diri menghadapi masa di mana terjadi lonjakan jumlah lulusan yang kesulitan menemukan pekerjaan, mengingat akses pendidikan dan kesehatan yang terbatas di wilayah seperti NTT.
Jangan sampai terjadi situasi di mana lulusan universitas mengalami kelebihan kualifikasi karena gaji yang diterima tidak sebanding dengan usaha yang dikeluarkan serta kemampuan ilmunya.
Beberapa universitas telah memulai program-program vokasional seperti
pertanian, peternakan, dan kewirausahaan.
Beberapa perguruan tinggi memulai program teknik, politeknik, dan menjadi tuan rumah peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis.
Kebanggaan tersendiri bahwa NTT saat ini jauh lebih baik dibandingkan NTT beberapa hari lalu.
Perubahan pendidikan di NTT yang semakin baik diharapkan dapat
mendorong generasi muda agar memperoleh kesempatan pendidikan yang semakin baik
terbuka dan mulai mengubah pandangan bahwa kesuksesan tidak lagi berarti menunggu dan berharap menjadi pegawai negeri tetapi menjadi tokoh lokal melalui pemberdayaan kemampuan dan memperkuat perekonomian daerah.
Di sisi lain, semangat ekonomi masyarakat tetap berkembang. Hal ini dapat terlihat dari keberadaan koperasi yang tersebar hampir di seluruh kabupaten/kota dan desa.
Kehadiran koperasi memberikan dukungan yang sangat bermanfaat bagi perkembangan ekonomi masyarakat di luar sistem keuangan tradisional.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah kondisi keuangan yang baik dan seimbang di tengah lingkungan kerja yang rentan terhadap kemiskinan akibat pekerjaan dan beban kerja berlebihan.
Ini cukup masuk akal karena keanggotaan koperasi masih didominasi oleh orang-orang yang bekerja di sektor formal berdasarkan data BPS NTT tahun 2025 sebesar 6,81 persen dibandingkan dengan kelompok miskin yang tidak bekerja di atas usia 15 tahun sebesar 28,49 persen dan mereka
yang bekerja di bidang tidak formal mencapai 64,69 persen.
Terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok yang memiliki pendapatan tetap dan mereka yang pendapatannya tidak tetap atau bahkan tidak ada sama sekali.
Persepsi dan kemampuan wirausaha juga layak mendapatkan perhatian. Wirausaha (entrepreneurship) tidak lagi hanya menjawab pertanyaan mengapa saya menjual pisang goreng, tetapi bagaimana pisang goreng ini tetap laku, terus memuaskan konsumen, dan yang paling penting adalah tetap bertahan dengan variasi produk dan rasa yang beragam.
Wirausaha tidak hanya terbatas pada besarnya modal atau investasi, tetapi sejauh ketekunan dalam menjalankannya.
Sifat kewirausahaan ini diharapkan mampu mengubah makna kesejahteraan dari menjadi karyawan menjadi seorang pengusaha mandiri yang mampu melahirkan lebih banyak pemuda wirausaha dari NTT.
Keindahan pemandangan alam dan pantai yang menarik membuat NTT menjadi daya tarik bagi para wisatawan.
domestik dan mancanegara.
Berada di kawasan ring of fire menjadikan NTT, termasuk Flores, sebagai pulau yang kaya akan sumber energi panas bumi (geothermal).
Semua yang kita miliki, bahkan potensi seperti energi panas bumi, berada di "halaman" rumah kita sendiri. Mengapa kita belum sejahtera?
Kesejahteraan di sini bukan berarti memihak pada perhitungan dan kebutuhan yang meningkat pesat yang secara otomatis mengadopsi ideologi pembangunan kapitalis melalui produksi, investasi, serta bergantung pada eksploitasi sumber daya alam.
Mencapai kesejahteraan tidak secara otomatis berpihak pada kalangan miskin, bahkan dapat mengandung ancaman sosial-ekologis yang besar.
Maka, pentingnya merancang teknologi dan sistem produksi yang terdesentralisasi dengan melibatkan masyarakat setempat, memperhatikan budaya, serta untuk kepentingan bersama.
Secara ringkas, NTT perlu terus berkembang dengan tetap konsisten dalam mempertimbangkan dan melestarikan batas-batas pertumbuhan.
Sebagai langkah nyata untuk kolaborasi, inovasi, dan masa depan perekonomian NTT mencakup: kebijakan program pengabdian wajib khususnya bagi lulusan penerima beasiswa dalam proyek kewirausahaan, agroindustri, atau pengolahan hasil laut; pembentukan inkubator lokal dan program transfer teknologi; akses pembiayaan mikro serta pelatihan literasi keuangan; serta pengembangan kurikulum vokasional yang sesuai dengan kondisi NTT.
Selain itu, tugas pemerintah adalah menciptakan lingkungan bisnis dan luasnya pasar bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat NTT.
namun juga memiliki jaringan pasar nasional dan global yang stabil.
Kebijakan yang mendukung, insentif pajak, bantuan pasar, serta pembinaan berkelanjutan akan membawa lulusan berkualitas menjadi penggerak nyata dalam meningkatkan kesempatan kerja dan kesejahteraan masyarakat.
Oleh karena itu, seluruh pihak perlu bekerja sama untuk menyediakan ruang diskusi, mengawasi perkembangan agar tetap bersifat etis dan ramah lingkungan, memberikan bimbingan untuk meningkatkan kemampuan, memfasilitasi akses pasar bagi pengusaha lokal, serta memberikan apresiasi kepada inovator lokal, yang merupakan tanggung jawab bersama.
Melalui kolaborasi antar sektor dan komitmen bersama, cita-cita kesejahteraan yang menyeluruh di NTT dapat tercapai dan memberikan harapan nyata bagi generasi mendatang. (*)
Ikuti terus berita dan tulisan opini Erfa Pulsa di Google News
