
Erfa Pulsa - .CO.ID - JAKARTAKinerja perusahaan minyak kelapa sawit (CPO) dari Grup Salim terlihat kuat sepanjang tahun 2025. Lihat saja kinerja PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) dan PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) yang sama-sama berkembang pada tahun sebelumnya.
Hanya untuk mengingatkan, LSIP mampu mencatat penjualan sebesar Rp5,51 triliun selama tahun 2025, meningkat 21% secara tahunan (yoy) dibandingkan tahun 2024 yang berjumlah Rp4,56 triliun.
"Peningkatan penjualan terutama disebabkan oleh kenaikan harga rata-rata dan jumlah penjualan produk kelapa sawit," ujar Tan Agustinus Dermawan, Presiden Direktur LSIP, dalam pengumuman tanggal 27 Februari 2026.
LSIP juga mencatatkan peningkatan laba tahun berjalan yang dapat diberikan kepada pemilik perusahaan induk atau laba bersih sebesar 28% YoY menjadi Rp1,89 triliun pada Desember 2025.
Sementara itu, SIMP mencatatkan penjualan sebesar Rp21,06 triliun selama tahun 2025, meningkat 32% YoY dibandingkan tahun sebelumnya yang berjumlah Rp15,96 triliun.
Penjualan didukung oleh sektor minyak dan lemak tumbuhan sebesar Rp 14,99 triliun serta sektor perkebunan senilai Rp 14,45 triliun. Terdapat penghapusan sebesar Rp 8,39 triliun, sehingga totalnya menjadi Rp 21,06 triliun selama tahun lalu.
"Kenaikan terutama disebabkan oleh kenaikan harga jual rata-rata serta volume penjualan produk kelapa sawit dan produk minyak serta lemak nabati," ujar Paulus Moleonoto, Direktur Utama SIMP, dalam pengungkapan informasi tanggal 27 Februari 2026.
Berikut adalah beberapa variasi dari teks tersebut: 1. Laba tahun berjalan yang dapat diberikan kepada pemilik perusahaan induk, atau laba bersih, meningkat sebesar 33% dibandingkan tahun sebelumnya menjadi Rp2,07 triliun. Sementara itu, laba inti atau core profit naik 26% menjadi Rp2,91 triliun. 2. Laba bersih, yang merupakan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk, mengalami kenaikan sebesar 33% YoY menjadi Rp2,07 triliun. Peningkatan yang sama juga terjadi pada laba inti atau core profit, yaitu sebesar 26% menjadi Rp2,91 triliun. 3. Laba bersih, yang merupakan laba tahun berjalan yang dapat diberikan kepada pemilik perusahaan induk, meningkat 33% secara tahunan menjadi Rp2,07 triliun. Laba inti atau core profit juga tumbuh 26% menjadi Rp2,91 triliun. 4. Laba tahun berjalan yang bisa diberikan kepada pemilik entitas induk, atau laba bersih, naik 33% YoY menjadi Rp2,07 triliun. Sementara itu, laba inti alias core profit meningkat 26% menjadi Rp2,91 triliun. 5. Laba bersih, yang merupakan bagian laba tahun berjalan yang diterima oleh pemilik perusahaan induk, meningkat sebesar 33% dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi Rp2,07 triliun. Laba inti atau core profit juga bertambah 26% menjadi Rp2,91 triliun.
Di sisi lain, produksi tandan buah segar (TBS) LSIP dan SIMP pada tahun sebelumnya terlihat mengalami penurunan. LSIP mencatatkan produksi TBS inti turun 3% YoY menjadi 1,14 juta ton sepanjang 2025. Sementara itu, SIMP mencatatkan produksi TBS inti turun 2% YoY menjadi 2,71 juta ton.
Namun demikian, total produksi minyak kelapa sawit mentah (CPO) LSIP meningkat 2% secara tahunan menjadi 292 ribu ton berkat kenaikan TBS dari luar. Hal yang sama terjadi pada total produksi minyak kelapa sawit mentah (CPO) SIMP yang naik 4% YoY menjadi 733 ribu ton karena kenaikan TBS dari luar.
Kepala Penelitian MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menyatakan, kenaikan laba bersih melebihi perkiraan serta margin laba bersih meningkat menjadi 34,2%.
"Artinya, tidak hanya penjualan meningkat, keuntungan juga menjadi lebih efisien," katanya dalam riset yang diterima Erfa Pulsa, Senin (2/3).
Penjualan CPO meningkat sebesar 12,4% secara tahunan didorong oleh kenaikan volume yang sedikit dan harga jual rata-rata (ASP) yang lebih tinggi.
Di sisi lain, penjualan produk inti kelapa sawit meningkat sebesar 84,5% secara tahunan dan harga jual inti kelapa sawit naik lebih dari 60% sepanjang tahun 2025.
Herditya mengatakan, produksi TBS inti pada tahun lalu memang sedikit menurun. Namun, pembelian TBS eksternal meningkat, sehingga total olahan tetap relatif stabil. "Produksi CPO naik 1,7% dan OER meningkat menjadi 21,7%," katanya.
Asisten Peneliti Panin Sekuritas, Luthfi menyampaikan, katalis positif bagi kinerja LSIP pada tahun 2025 terutama didorong oleh kenaikan harga jual rata-rata (ASP) CPO menjadi Rp14.100 per kilogram, atau meningkat 8% YoY, sejalan dengan kenaikan harga CPO global.
Selain itu, produksi CPO LSIP juga meningkat menjadi 292.000 MT, naik sebesar 1,7% dibanding tahun sebelumnya. Hal ini berhasil menyeimbangkan penurunan produksi TBS yang tercatat sebesar 1,13 juta metrik ton (MT), turun 2,9% dibanding tahun sebelumnya.
Di sisi lain, peningkatan kinerja SIMP didukung oleh kenaikan harga rata-rata CPO menjadi Rp14.101/kg, meningkat 10,1% dibanding tahun sebelumnya, serta kenaikan tajam harga kernel kelapa sawit menjadi Rp11.916/kg yang naik 52,0% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Dari segi operasional, produksi CPO dan inti kelapa sawit masing-masing meningkat menjadi 724.000 MT, naik 4,93% dibanding tahun sebelumnya, serta 170.000 MT yang tumbuh 6,9% dibanding tahun lalu, meskipun volume produksi buah segar kelapa sawit mengalami penurunan sebesar 1,6% dibanding tahun sebelumnya menjadi 2,71 juta MT.
Analisis dari Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, menunjukkan bahwa kinerja LSIP dan SIMP pada tahun 2025 tetap mengalami pertumbuhan meskipun produksi TBS inti menurun, karena didorong oleh kenaikan harga rata-rata CPO dan produk turunannya serta peningkatan volume CPO yang berasal dari pembelian TBS eksternal.
Selain itu, keduanya mampu mempertahankan efisiensi serta pengendalian biaya, sehingga margin meningkat dan laba bersih berkembang secara signifikan.
"Struktur modal tetap dalam kondisi baik, SIMP dengan rasio utang bersih 0,04x dan LSIP yang tidak memiliki utang bank, juga memperkuat kinerja di tengah tekanan produksi," katanya kepada Erfa Pulsa, Senin (2/3).
Pada tahun 2026, kemungkinan tren penurunan produksi TBS inti LSIP akan terus berlangsung, dikarenakan struktur usia kebun yang lebih tua dan tingkat produktivitas yang berada di bawah rata-rata kompetitor.
Luthfi mengamati, hasil produksi LSIP pada tahun 2025 mencapai 12,5 ton per hektar, mengalami penurunan dibandingkan tahun 2024 yang berada di angka 12,7 ton/ha. Hal ini masih jauh dari rata-rata industri yang berada di atas 20 ton/ha.
"Di samping itu, potensi penurunan harga CPO, yang diperkirakan turun 13,6% YoY menjadi MYR 4.041 per ton pada Maret 2026, berisiko memengaruhi kinerja LSIP secara tahunan," katanya.
Sementara itu, kinerja SIMP pada tahun 2026 diperkirakan cenderung stabil. Hasil produksi FFB inti SIMP juga berada pada tingkat yang relatif rendah, yaitu sebesar 11,4 ton/ha, sama seperti tahun 2024. Keadaan ini menunjukkan bahwa kondisi kebun tidak terlalu muda.
"Namun, yield SIMP menunjukkan ketahanan dibandingkan LSIP yang cenderung menurun," katanya.
Di sisi lain, ketergantungan SIMP terhadap pasokan TBS dari luar, yaitu sebesar 27% dari total produksi, lebih besar dibandingkan LSIP yang hanya 15% dari keseluruhan produksi. Hal ini memberikan fleksibilitas dalam volume bagi SIMP, tetapi berisiko mengurangi margin jika harga TBS naik.
"Secara relatif, kinerja SIMP berpeluang lebih unggul dibandingkan LSIP pada tahun 2026, didukung oleh tren yield yang lebih stabil serta pertumbuhan produksi CPO dan kernel kelapa sawit yang historisnya lebih kuat," katanya.
Azis mengamati, tren kinerja yang positif pada tahun 2026 sangat tergantung pada pergerakan harga minyak sawit mentah (CPO) global dan kondisi iklim. Jika harga CPO tetap tinggi dan cuaca lebih baik, kinerja berpeluang terus berlanjut meskipun produksi belum pulih sepenuhnya.
Namun, jika harga CPO mengalami penurunan atau terjadi cuaca yang ekstrem, keuntungan dapat terganggu karena sektor ini sangat rentan terhadap fluktuasi harga komoditas.
Beberapa sentimen positif meliputi permintaan biodiesel dalam negeri, kondisi keuangan yang stabil, serta kemungkinan peningkatan efisiensi produksi. Sementara itu, sentimen negatif mencakup fluktuasi harga komoditas, kondisi iklim, dan regulasi ekspor.
"Dari segi profil, SIMP memiliki potensi untuk mencatat pertumbuhan yang lebih tinggi karena skala usaha yang lebih besar, sementara LSIP cenderung bersikap lebih defensif," katanya.
Herditya juga menyarankan pembelian untuk LSIP dengan target harga Rp1.500 per saham. Saran tersebut didasarkan pada permintaan domestik yang stabil dan harga CPO yang tetap mendukung.
Azis menyarankan untuk membeli LSIP dengan harga target Rp 1.765 per saham dan melakukan pembelian untuk SIMP dengan target harga Rp 680 per saham.
Sementara itu, Luthfi menyarankan untuk mempertahankan saham LSIP dengan target harga sebesar Rp1.335 per saham.
