:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/hujan-lebat-di-kota-semarang.jpg)
Ramalan Cuaca Jawa Tengah Pada Hari Minggu, 8 Maret 2026 Esok, Berpotensi Hujan Ringan
Erfa Pulsa -, SEMARANG -Berikut prediksi cuaca di Jawa Tengah (Jateng), Minggu 8 Maret 2026 besok.
Seluruh wilayah Jawa Tengah yang terdiri dari 35 kabupaten dan kota akan dilanda hujan.
Hujan lembut mendominasi, diperkirakan terjadi di 29 daerah.
Berikut adalah beberapa informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang.
Untuk menghindari gangguan dalam aktivitas, persiapkan diri kalian dengan sebaik-baiknya.
Berikut ramalan cuaca terperinci untuk besok:
Hujan disertai petir
- Boyolali
- Klaten
- Magelang
- Semarang
Hujan lebat
- Cilacap
- Kota salatiga
Hujan ringan
- Banjarnegara
- Banyumas
- Batang
- Blora
- Brebes
- Demak
- Grobogan
- Jepara
- Karanganyar
- Kebumen
- Kendal
- Kota Magelang
- Kota Pekalongan
- Kota Semarang
- Kota Surakarta
- Kota Tegal
- Kudus
- Pati
- Pekalongan
- Pemalang
- Purbalingga
- Purworejo
- Rembang
- Sragen
- Sukoharjo
- Tegal
- Temanggung
- Wonogiri
- Wonosobo
Suhu atmosfer berkisar antara 11 derajat Celsius hingga 31 derajat Celsius.
Kecepatan angin rata-rata berkisar antara 9 hingga 13 kilometer per jam.
Musim Panas Diperkirakan Tiba Lebih Cepat
Kapan musim kemarau tiba? dan kapan puncaknya terjadi?
Khusus untuk Jawa Tengah, puncak musim kemarau diperkirakan akan terjadi pada bulan Agustus.
Namun demikian, puncak musim kemarau bervariasi di setiap daerah.
Kondisi ini terjadi akibat berakhirnya fenomena La Nina Ringan pada Februari 2026, yang kini beralih ke fase Netral dan berpotensi berubah menjadi El Nino pada pertengahan tahun.
"La Nina yang lemah yang berlangsung sejak Oktober 2025 telah berakhir pada Februari 2026," ujar Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani dalam pernyataan tertulis, Kamis (5/3/2026).
Ia menjelaskan, pengawasan terhadap anomali iklim global di Samudera Pasifik menunjukkan angka indeks ENSO saat ini sebesar minus 0,28 (Netral) dan diperkirakan tetap berlangsung hingga Juni 2026.
Namun, sejak pertengahan tahun, kemungkinan munculnya El Niño dengan kategori Lemah-Moderat sebesar 50-60 persen mulai semester kedua tahun ini perlu diperhatikan.
"Sementara itu, kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) diperkirakan tetap stabil dalam fase Netral sepanjang tahun," ujar Faisal.
Lalu, kapan musim kemarau 2026 mencapai puncaknya?
Puncak musim kemarau 2026
Wakil Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa 184 ZOM (26,3 persen) mengikuti masuknya musim kemarau pada Mei 2026, serta 163 ZOM (23,3 persen) pada Juni 2026.
Berdasarkan data tersebut, Ardhasena menyatakan bahwa awal musim kemarau di 325 ZOM (46,5 persen) diperkirakan lebih cepat dari biasanya, sebanyak 173 ZOM (24,7 persen) mengalami keterlambatan, dan 72 ZOM (10,3 persen) mengalami penundaan.
"Wilayah yang diperkirakan mengalami musim kemarau lebih awal mencakup sebagian besar Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga beberapa wilayah di Papua," katanya.
Berdasarkan analisis BMKG, puncak musim kemarau 2026 di sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan terjadi pada bulan Agustus 2026.
"Puncak musim kemarau pada bulan Agustus mencakup 429 ZOM atau sekitar 61,4 persen dari wilayah Indonesia. Wilayah lainnya akan mengalami puncak kemarau pada Juli (12,6 persen) dan September (14,3 persen)," kata Ardhasena.
Selanjutnya, Ardhasena menjelaskan wilayah-wilayah yang mengalami puncak musim kemarau pada bulan Juli dan Agustus, antara lain:
Wilayah yang mengalami puncak musim kemarau pada bulan Juli, mencakup:
Sebagian wilayah Sumatera
Kalimantan bagian tengah dan utara
sebagian kecil Jawa
sebagian kecil Nusa Tenggara
sebagian Sulawesi
sebagian wilayah Maluku hingga daerah sebelah barat Pulau Papua.
Memasuki bulan Agustus, area yang mengalami musim kemarau mulai memperluas secara signifikan.
Kondisi kering ini akan mendominasi sebagian besar wilayah yang mencakup:
Tengah dan selatan Pulau Sumatera
Jawa Tengah
Jawa Timur
sebagian besar Kalimantan
sebagian besar Sulawesi
seluruh wilayah Bali
Nusa Tenggara
serta sebagian dari Maluku dan Pulau Papua.
Ardhasena menyampaikan, sebagian kecil daerah Indonesia mengalami puncak musim kemarau pada bulan September 2026.
Pada bulan September, wilayah yang baru mencapai puncak musim kemarau antara lain:
sebagian Lampung
sebagian kecil Jawa
sebagian besar NTT
wilayah Sulawesi bagian utara dan timur
sebagian besar Maluku Utara
sebagian Maluku
dan sebagian kecil Pulau Papua.
Sifat musim kemarau 2026
Selanjutnya, BMKG memprediksi bahwa musim kemarau 2026 secara umum akan berada di bawah normal atau lebih kering dibandingkan biasanya di 451 ZOM (64,5 persen) dan normal di 245 ZOM (35,1 persen).
Sebaliknya, hanya ada 3 ZOM (0,4 persen) di wilayah Gorontalo dan Sulawesi Tenggara yang berpotensi mengalami musim kemarau yang lebih basah daripada biasanya.
"Dengan situasi ini, masa musim kemarau di 57,2 persen wilayah Indonesia diperkirakan lebih lama dari biasanya," lanjut Faisal
Merupakan tanggapan terhadap berbagai ancaman yang mungkin muncul sepanjang musim kemarau 2026, Faisal menekankan perlunya tindakan pencegahan dari kementerian, lembaga, pemerintah daerah, hingga seluruh lapisan masyarakat.
Di bidang pangan, para petani perlu segera menyesuaikan jadwal tanam dengan memilih jenis benih yang lebih efisien dalam penggunaan air, tahan terhadap kekeringan, serta memiliki masa panen yang lebih pendek.
"Langkah ini perlu diiringi dengan penguatan sektor sumber daya air melalui pembaruan waduk dan peningkatan jaringan distribusi agar memastikan ketersediaan air bersih untuk kebutuhan rumah tangga maupun operasional PLTA di bidang energi," katanya.
Selain pengelolaan air, kehati-hatian terhadap dampak lingkungan tetap menjadi fokus utama.
Pemerintah daerah harus mempersiapkan sistem respons cepat dalam menghadapi penurunan kualitas udara serta meningkatkan kesiapan di bidang kehutanan untuk menghindari risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“BMKG menegaskan bahwa semua informasi prediksi ini berupa peringatan dini (Early Warning) yang harus segera diubah menjadi tindakan nyata (Early Action) oleh pihak terkait guna mengurangi risiko bencana kekeringan di Indonesia,” tutupnya. (*)
