
Video-video yang menampilkan orang-orang berolahraga di aula besar, antre makanan di kantin, dan tidur di ranjang berderet mulai viral di media sosial. Namun, tempat tersebut bukanlah penginapan mewah, melainkan kamp penurunan berat badan dengan konsep militer di Tiongkok.
Kamp-kamp ini sering disebut sebagai "penjara gemuk" oleh sebagian orang. Mereka menerapkan aturan ketat terkait makanan dan aktivitas harian. Peserta dilarang mengonsumsi camilan, serta harus menimbang berat badannya dua kali sehari. Menurut laporan media setempat, terdapat sekitar 1.000 kamp serupa di seluruh Tiongkok. Dengan biaya sekitar US$600 (Rp10,3 juta), peserta bisa tinggal selama sebulan, termasuk akomodasi, makanan, dan kelas olahraga harian.
TL Huang, seorang kreator konten yang membagikan pengalamannya di Instagram, mengatakan bahwa tinggal di kamp itu seperti hidup dalam penjara. Ia tidak pernah keluar kompleks selama 28 hari dan harus terus memeriksa berat badannya. Pelatih kamp mengawasi peserta untuk memastikan mereka tidak menyelundupkan makanan cepat saji dan menghadiri semua kelas. Ia juga tidak diperbolehkan melewatkan kelas atau meninggalkan kamp tanpa alasan yang sah.
Meskipun Huang merasa metode ini efektif, para ahli gizi memperingatkan bahwa cara ekstrem seperti ini dapat membahayakan kesehatan fisik dan mental. Beberapa kamp dilaporkan menargetkan penurunan satu kilogram per hari, yang jauh melampaui batas aman bahkan bagi orang dewasa di bawah pengawasan medis.
'Saatnya membuat perubahan'
Huang pertama kali mengetahui keberadaan kamp-kamp ini melalui ibunya. Setelah bepergian sendirian dan mengonsumsi banyak makanan, ia merasa sangat tidak sehat. Selama tiga tahun, berat badannya bertambah sekitar 20 kilogram. Kerabatnya memberi komentar yang membuatnya sadar bahwa sudah waktunya membuat perubahan.
Ia merasa dipermalukan karena gemuk, tetapi pada saat yang sama, mereka juga menunjukkan kasih sayang. Mengikuti kamp tersebut menjadi pengalaman yang mengejutkan, tetapi Huang merasa ada rasa kebersamaan yang kuat di antara peserta karena mereka memiliki tujuan yang sama.
Setiap hari dimulai pukul 07.30 dengan penimbangan berat badan, diikuti empat jam olahraga, termasuk kelas spin, trampolin, HIIT, tabata, dan latihan beban. Sarapan terdiri dari empat telur rebus, setengah tomat, dan dua potong mentimun. Makan siang mencakup udang, sayuran kukus, tahu, ikan kukus, seledri China, sayuran daun kukus, dan kembang kol.
Huang mengatakan makanan tersebut enak, seimbang, dan dirancang untuk meniru makanan China sehari-hari. Setelah makan malam, peserta diwajibkan mengikuti kelas spin selama satu jam, lalu penimbangan kedua pada pukul 19.30. Setelah itu, mereka bisa mandi dan beristirahat.
'Mengganggu perkembangan normal'
Namun, para ahli mengimbau agar masyarakat waspada. Metode kamp-kamp ini sangat memprihatinkan karena penurunan berat badan juga bisa menyebabkan kehilangan otot. Luke Hanna, pelatih pribadi dan ahli gizi, menjelaskan bahwa jika seseorang menggunakan metode ekstrem seperti olahraga berlebihan, risiko kehilangan jaringan otot akan meningkat. Hal ini menjadi masalah khusus bagi anak-anak atau remaja yang menurunkan berat badan dengan cara tersebut.
Mereka juga berpotensi mengganggu perkembangan normal, termasuk tinggi badan dan kesehatan tulang. Metode ekstrem juga bisa menyebabkan gangguan makan. NHS merekomendasikan penurunan berat badan secara bertahap, antara 0,5 hingga 1 kilogram per minggu.
Hanna menyarankan agar orang fokus pada perubahan kebiasaan secara bertahap, seperti makan makanan bergizi, mendapatkan protein cukup, dan berolahraga untuk kesenangan, bukan sebagai hukuman. Bahkan, dalam video Instagram terbaru, Huang mengatakan bagian tersulit adalah kembali ke rumah, karena tubuhnya tidak lagi terbiasa dengan pola makan "normal".
Diskriminasi
Kamp-kamp ini mulai berkembang di Tiongkok pada awal 2000-an, setelah sebuah program televisi mendokumentasikan aktivitas di tempat penurunan berat badan. Para pelatih kemudian membuka kamp penurunan berat badan sendiri. Lonjakan terbesar terjadi dalam 10 tahun terakhir, seiring meningkatnya penggunaan media sosial.
Di sisi lain, ada kamp dengan fasilitas mewah, seperti berlari di treadmill sambil melihat danau indah. Keberadaan kamp-kamp ini erat kaitannya dengan tren peningkatan obesitas. Di banyak negara, lebih dari 50% orang dewasa tergolong kelebihan berat badan atau obesitas. Di Tiongkok, sekitar 34% orang dewasa tergolong kelebihan berat badan, sementara 16% tergolong obesitas.
Ada pula isu budaya, yaitu rendahnya toleransi terhadap keberagaman berat badan. Jika seseorang kelebihan berat badan, ia cenderung menghadapi diskriminasi di tempat kerja atau dunia kencan. Karbohidrat olahan dalam nasi, pangsit, dan mi menjadi masalah, ditambah fakta bahwa banyak orang menghabiskan waktu di dalam ruangan dengan ponsel alih-alih beraktivitas luar ruangan.
Sementara itu, Instagram Huang menunjukkan bahwa ia kini berada di Thailand, mengikuti tantangan penurunan berat badan 30 hari lainnya, berolahraga selama dua jam sehari di tengah panas ekstrem.
