Banyak orang merasa bingung mengapa tubuh sering terasa lemah saat berpuasa. Padahal, ketika tiba waktunya sahur, kamu merasa sudah makan cukup banyak, bahkan sampai kenyang dengan harapan makanan tersebut bisa menjadi cadangan energi untuk aktivitas sepanjang hari.
Namun kenyataannya, tubuh tetap terasa lemah, mengantuk, atau kurang bertenaga saat menjalani puasa. Kondisi ini sering membuat seseorang merasa penasaran, apakah ada yang tidak sesuai dengan makanan yang dikonsumsi saat sahur atau justru cara tubuh bekerja? Untuk membantu kamu tidak lagi bingung, berikut beberapa alasan mengapa kita masih merasa lemas saat berpuasa meski sudah makan cukup saat sahur!
1. Tubuh secara bertahap memanfaatkan cadangan yang ada di dalam tubuhnya sendiri
Saat seseorang menjalani puasa, tubuh tidak langsung memanfaatkan energi yang berasal dari makanan sahur sepanjang hari. Hal ini terjadi karena sebagian besar glukosa yang diperoleh dari makanan saat sahur hanya bertahan beberapa jam dalam aliran darah. Selanjutnya, kadar glukosa akan menurun dan tubuh mulai mengandalkan cadangan glikogen yang tersimpan di hati dan otot sebagai sumber energi tambahan.
Saat cadangan glikogen mulai berkurang, tubuh memicu proses yang dikenal sebagai gluconeogenesis, yaitu cara pembentukan glukosa baru dari protein dan lemak agar otak serta organ penting tetap berfungsi dengan baik. Namun, proses ini berjalan lebih perlahan dibandingkan penggunaan glukosa sebagai sumber energi. Akibatnya, tubuh mengalami masa penyesuaian selama puasa yang ditandai dengan rasa lemah, lesu, atau kurang bertenaga.
2. Menurunnya kadar gula dalam darah menyebabkan tubuh kekurangan pasokan energi
Selama berpuasa, kadar gula darah secara alami akan menurun. Hal ini terjadi karena tidak ada makanan baru yang masuk ke tubuh, sehingga tubuh harus memanfaatkan cadangan energi yang terbatas.
Kondisi ini terasa lebih jelas ketika saat berbuka puasa, makanan yang kamu makan cenderung mengandung karbohidrat sederhana seperti nasi putih, roti putih, gula, atau makanan manis lainnya. Jenis makanan ini mudah dicerna oleh tubuh dan cepat habis dalam waktu beberapa jam.
Penurunan yang terjadi secara cepat dapat memicu suatu kondisi yang dikenal sebagai “energy crashdan dapat menyebabkan seseorang mengalami gejala seperti lemah, pusing, kesulitan berfokus, serta kantuk akibat otak dan otot tidak menerima pasokan energi yang stabil.
3. Kekurangan cairan ringan menyebabkan tubuh mengalami penurunan volume darah dan pasokan oksigen
Karena tubuh tidak menerima pasokan air selama berpuasa, maka pasti tubuh mengalami dehidrasi. Kondisi ini juga bisa menjadi penyebab tubuh terasa lesu saat berpuasa meskipun sudah mengonsumsi banyak makanan saat sahur. Hal ini terjadi karena cairan merupakan komponen terbesar dan paling penting dalam tubuh untuk menjaga volume darah serta penyebaran oksigen ke seluruh jaringan tubuh.
Bila tubuh kekurangan cairan, volume plasma darah akan berkurang sehingga pasokan oksigen dan nutrisi yang seharusnya sampai ke otot dan otak menjadi tidak maksimal. Keadaan ini memaksa tubuh bekerja lebih keras agar fungsi organ penting tetap berjalan dengan baik. Kondisi ini bisa menyebabkan rasa lelah meskipun asupan makanan saat sahur sudah cukup atau terpenuhi.
4. Perubahan pola jam tidur yang dapat mengganggu proses produksi energi
Selama bulan Ramadhan, kebiasaan tidur sering kali berubah karena harus bangun lebih awal untuk menyantap makan sahur dan terjaga hingga larut malam setelah melaksanakan ibadah seperti tarawih atau tadarus. Peningkatan aktivitas di malam hari ini dapat memengaruhi ritme biologis tubuh yang mengatur siklus tidur, produksi hormon, metabolisme, serta tingkat energi pada hari berikutnya. Jika ritme ini terganggu, tubuh tidak mampu mengatur produksi hormon penting seperti kortisol dan melatonin secara optimal, yang memiliki peran sangat penting dalam menjaga tingkat energi.
Hal ini dapat menyebabkan tubuh terasa lebih lelah meskipun kebutuhan kalori telah terpenuhi dengan baik saat berbuka puasa. Selain itu, kondisi tersebut juga bisa memperlambat proses metabolisme energi dan mengurangi efektivitas kerja sel dalam menghasilkan energi. Inilah alasan mengapa rasa lemas selama puasa tidak selalu disebabkan oleh kurangnya makanan, tetapi juga karena jam biologis tubuh yang belum sepenuhnya menyesuaikan diri dengan perubahan pola tidur.
Dengan memahami alasan-alasan tersebut, kamu akan lebih mengerti bahwa rasa lemas saat berpuasa adalah reaksi alami tubuh dalam menyesuaikan diri dengan perubahan sumber energi, asupan cairan, serta ritme alami tubuh. Dengan menerapkan cara yang tepat, puasa bisa dilakukan dengan nyaman dan memberikan manfaat kesehatan yang positif bagi tubuh.
Referensi:
Pramono, A. (2003). Pandangan Biomedis tentang Puasa Ramadhan.Mutia Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan, 3(1), 34-39. Diakses pada 26 Februari 2026.
Tjakradidjaja, F. A. (2024). Puasa Interval dan Perubahan Tubuh: Ilmu di Balik Pengurangan Lemak, Pemeliharaan Otot, serta Peningkatan Energi.Jurnal Asia tentang Penelitian Multidisiplin, 1(4), 157-165. Diakses pada 26 Februari 2026.
Alfin, R., Busjra, B., & Azzam, R. (2019). Dampak puasa ramadhan terhadap kadar gula darah pada penderita diabetes mellitus tipe II.Journal of Telenursing (JOTING), 1(1), 191-204. Dikunjungi pada 26 Februari 2026.
Abdullah, A., Salwani, D., Muhsin, M., Khairi, A. B., & Syukri, M. (2021). Puasa Ramadhan dan dampaknya terhadap perkembangan penyakit ginjal kronis.Jurnal Kedokteran Syiah Kuala, 21(3). Dikunjungi pada 26 Februari 2026.
Fairuz, R. A., Absari, N. W., Utami, R. F., & Djunet, N. A. (2024). Dampak pola puasa (intermittent fasting) terhadap penurunan berat badan, perubahan metabolisme, dan massa otot.Jurnal Kesehatan Tadulako (Healthy Tadulako Journal), 10(1), 40-47. Diakses pada 26 Februari 2026.
5 Keuntungan Berjalan Kaki di Sore Hari Saat Puasa, Mengurangi Rasa Stres dan Pikiran Berlebihan! 5 Saran Agar Tidak Kehilangan Kekuatan Saat Berbuka Puasa



